ZAKAT PROFESI

ZAKAT PROFESI

Sebenarnya, zakat profesi adalah istilah baru yang tidak pernah disampaikan oleh para ulama terdahulu. Konsep zakat ini dicetuskan oleh seorang ulama kontemporer, yaitu Syaikh Yusuf qardhawi dalam kitab zakatnya. Secara garis besar, zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil Profesi) bila telah mencapai nishabnya. Profesi tersebut misalnyan pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, dan wiraswasta.

Menurut Syaikh Yusuf Qardhawi, zakat jenis ini dikeluarkan tanpa harus menunggu haul (batas waktu setahun). Dengan kata lain, zakat dikeluarkan langsung ketika mendapatkan harta tersebut. Hal ini dikiaskan dengan zakat hasil bumi yang dibayar tiap waktu panen.
Nishab dari zakat ini adalah sama seperti zakat hasil bumi, yaitu setara dengan 5 wasaq (652,8 kilogram) hasil bumi. Adapun jumlah zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5%. Hal ini disebabkan, meskipun diqiyaskan dengan zakat hasil bumi, tapi bentuk dari zakat profesi adalah uang. Maka, dalam hal ini kadar zakat yang harus dikeluarkan sama seperti zakat emas dan perak, yaitu sebanyak 2,5% dari pendapatan.

Tentunya penentuan zakat jenis ini mengandung pro dan kontra di kalangan para ulama dan masyarakat secara luas. Salah satu yang tidak setuju dengan zakat profesi ialah Tim Fatwa Lajnah Da’imah Saudi Arabia.

Mereka menjelaskan bahwa di antara jenis harta yang wajib dizakati ialah dua mata uang (emas dan Perak). Di antara syarat wajibnya zakat pada jenis-jenis semacam itu ialah apabila sudah sempurna mencapai haul. Atas dasar ini, uang yang diperoleh dari gaji pegawai yang mencapai nishab, baik dari jumlah gaji itu sendiri maupun dari hasil gabungan uangnya yang lain, dan sudah memenuhi haul (lewat satu tahun)maka wajib untuk dizakatkan.
Zakat gaji tidak boleh diqiyaskan dengan zakat hasil bumi. Persyaratan haul (satu tahun) tentang wajibnya zakat bagi dua mata uang  (emas dan perak) merupakan persyaratan yang jelas berdasarkan nash.

Apabila sudah ada nash maka tidak ada lagi qiyas. Berdasarkan hal itu maka tidaklah wajib zakat bagi uang dari gaji pegawai sebelum memenuhi haul.

Tampaknya, penulis buku ini lebih memilih pendapat yang kedua, yaitu pendapat yang tidak setuju dengan adanya zakat profesi. Hal ini disebabkan, persyaratan harta yang wajib zakat adalah:

1. Harta yang mencapai nishab syar’i.
2. Lebih dari kebutuhan-kebutuhan asasi seperti pakaian, makana, dan tempat tinggal.
3. Harta tidak terlibat hutang yang menghabiskan semuanya.
4. Berlalu satu tahun hitungan kalender hijriyah dan permulaanya dihitung pada hari memiliki nishab.
5. Hartanya bisa dikembangkan sendiri atau bisa dikembangkan.

Wallahu a’lam.

Referensi:

Diambil dari Buku “Praktis dan Mudah Menghitung Zakat” Karya Syaikh Ali Mahmud Uqaily Penerbit Aqwam Cetakan Ke-1 Januari 2013 halaman 165-166

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *