SUDAH AKAD NIKAH TAPI SAAT HAMIL DI LUAR NIKAH, HARUSKAH AKAD ULANG?

SUDAH AKAD NIKAH TAPI SAAT HAMIL DI LUAR NIKAH, HARUSKAH AKAD ULANG?

Saya mau konsultasi, saya akan melakukan akad ulang karena pernah akad nikah namun saat itu hamil di luar nikah. Yang saya tanyakan, biar afdhol secara agama bagaimana cara akad ulangnya?

Jawaban: Yang anda tanyakan adalah termasuk salah satu permasalahan fikih yang sering ditanyakan dan banyak menimpa kaum wanita zaman ini. Tentang hukum lelaki menikahi wanita yang dihamili saat masih hamil apakah pernikahannya sah atau tidak, ada beberapa pendapat ulama, ringkasnya adalah sebagai berikut;

Pertama: Madzhab Hambali:
Imam Ahmad tidak membolehkan lelaki pezina menikahi wanita yang dizinahi kecuali telah memenuhi 2 syarat: 1. Lelaki dan perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan zina, 2. Telah selesai masa iddah bagi wanita tersebut, jika ia tidak hamil maka iddahnya 3 kali haid, sedangkan jika ia hamil maka menunggu hingga melahirkan. Apabila pernikahan berlangsung sedangkan masa iddahnya belum selesai atau dalam kondisi hamil maka pernikahannya batal dan keduanya wajib dipisahkan.

Kedua: Madzhab Hanafi, Maliki dan Syafii:
Ulama madzhab Hanafi, Maliki, dan syafii membolehkan lelaki pezina menikahi wanita yang dizinahi. Hanya saja ulama-ulama ini pun berbeda pendapat yang rinciannya sebagai berikut:
-Imam malik melarang pelaksanaan pernikahan pada masa iddah atau belum melewati masa 3 kali haid.
-Imam Abu Hanifah membolehkan pelaksanaan pernikahan tanpa menunggu selesainya masa iddah, namun apabila wanitanya hamil harus menunggu ia melahirkan.
-Imam Syafii membolehkan dilaksanakannya akad walaupun dalam masa iddah dan walaupun wanitanya dalam kondisi hamil, sehingga tanpa menunggu melahirkan.
Kesimpulan kami dari telaah berbagai referensi dan pendapat, kami lebih memilih pendapat Imam Ahmad yang mengharuskan adanya taubat dan menunggu selesainya masa iddah yaitu 3 kali haid atau sampai melahirkan jika wanitanya hamil. Hal ini dengan tujuan agar pernikahan ini terbebas dari keburukan-keburukan yang pernah menimpanya dan juga menghindari percampuran air mani hasil perzinahan dan bukan hasil perzinahan. Oleh karena itu, apabila anda sudah melahirkan, anda dan suami wajib bertaubat kepada Allah dan melakukan akad ulang dengan akad yang sesuai syarat dan rukun menikah seperti yang telah maklum disebutkan oleh para ulama. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *