Sikap Ahlussunnah Terhadap Peristiwa Peperangan Antar Para Sahabat

Sikap Ahlussunnah Terhadap Peristiwa Peperangan Antar Para Sahabat

Dalam keyakinan ahlussunnah wal jamaah bahwa para pelaku dosa besar tidak dihukumi kafir, ia dihukumi berdosa dan dibawah kehendak Allah antara diadzab atau diampuni.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِين

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali(kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Hujurat: 9)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya: “Allah Ta’ala menyebutkan mereka sebagai orang-orang mukmin, padahal mereka berperang satu sama lainnya. Berdasarkan ayat ini Imam Bukhari dan lain-lainnya menyimpulkan bahwa maksiat itu tidak mengeluarkan orang yang bersangkutan dari keimanannya, betapapun besarnya maksiat itu. Tidak seperti yang dikatakan oleh golongan Khawarij dan para pengikutnya dari kalangan Mu’tazilah dan lain-lainnya (yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar dimasukkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya). ”

Dalam realita sejarah Islam, pernah terjadi peperangan antar para sahabat yaitu pada perang jamal dan perang shiffin. Dalam menyikapi peperangan ini manusia memiliki pandangan yang berbeda-beda, ada diantara mereka yang menjadikan peristiwa ini sebagai bahan olok-olok dan merusak citra sahabat sebagaimana dilakukan oleh musuh Islam dari kalangan kaum orientalis dan kaum syiah.

Dalam masalah ini ahlussunnah wal jamaah memiliki sikap tersendiri yang berbeda dengan sikap para musuh Islam dan musuh ahlussunnah.

Orang yang saling berperang antar sesama saudara seiman dan seislam dalam keyakinan ahlussunnah tetap dinilai sebagai Islam. Terdapat sebuah riwayat sahih bahwa apabila sesama saudara muslim berperang maka yang membunuh dan yang terbunuh berada didalam neraka, namun ulama ahlussunnah memandang peristiwa yang menimpa sahabat tidak masuk dalam ancaman tersebut dikarenakan peristiwa yang menimpa sahabat terjadi dizaman fitnah dan atas hasil ijtihad mereka.

Dari Abi Bakrah radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila dua orang muslim bertemu dengan masing-masing bersenjata (berperang) maka yang membunuh dan terbunuh kelak didalam neraka.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah dalam syarah sahih muslim berkata tentang hadis tersebut: ” Ketahuilah, pertumpahan darah antara para sahabat tidak termasuk dalam ancaman (hadis tersebut). Madzhab ahlussunnah dan ini yang benar yaitu berprasangka baik terhadap mereka, tidak ikut campur dalam urusan yang terjadi antara mereka, bahwa mereka adalah para mujtahid (yang berusaha secara maksimal mengambil sikap terbaik menurutnya), mereka tidak bermaksud untuk berbuat maksiat dan tidak pula berambisius pada kepentingan dunia, bahkan masing-masing kubu beranggapan benar dan yang menyelisihinya berarti memberontak yang wajib diperangi agar kembali kepada Allah. Ternyata dua kubu tersebut ada yang benar dan ada yang salah namun ditoleransi karena hasil ijtihad, dan orang yang berijtihad apabila salah tidak berdosa, kubu yang benar adalah kubu sahabat Ali radhiyallahu anhu dan ini pendapat yang benar dalam menyikapi peristiwa tersebut, dan inilah sikap ahlussunnah wal jamaah. Peristiwa tersebut adalah peristiwa yang samar sampai-sampai para sahabat kebingungan, ada yang meninggalkan kedua kubu tersebut, tidak ikut berperang, belum yakin mana yang benar sehingga menangguhkan untuk membantunya. ”

Wallahu a’lam, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua.

 

Oleh: Abul Fata Miftah Murod, Lc

Bogor, 27 Juli 2017

Artikel:

alghurobasite.wordpress.com

Inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *