PUASA ASYURA’

PUASA ASYURA’

Dalam kitab Bidayatul Mujtahid Wa Nihatul Muqtashid, Imam Ibnu Rusyd rahimahullah menjelaskan bahwa ada dua bentuk puasa sunnah, Pertama; Puasa sunnah yang masih diperselisihkan hukumnya, apakah disunnahkan atau tidak? seperti puasa arafah, puasa sunnah 6 hari di bulan syawal dan puasa ayyamul bidh (tanggal 13,14 dan 15 setiap bulannya). Kedua; Ada puasa sunnah yang telah disepakati hukumnya yaitu disunnahkan untuk dilakukan dan contohnya adalah puasa Asyura’.

Puasa Asyura’ menurut mayoritas ulama adalah pada tanggal 10 pada bulan Muharram.

Imam Ash-Shon’ani rahimahullah berkata dalam kitabnya Subulus Salam:

وأما صوم يوم عاشوراء وهو العاشر من شهر المحرم عند الجماهير فإنه قد كان واجباً قبل فرض رمضان ثم صار بعده مستحباً

“Adapun puasa Asyura’ adalah tanggal 10 pada bulan Muharram menurut mayoritas ulama. Dahulu pernah diwajibkan disaat belum ada kewajiban puasa ramadhan, namun kemudian puasa Asyura’ menjadi sunnah”.

صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ الله إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهَِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9.”, tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.” (HR. Muslim).

Ibnu Rojab Al-Hambali rahimahullah berkata dalam Kitab Lathoiful Ma’arif: “Ibnu Sirin mengatakan, para sahabat tidaklah berselisih bahwa Asyura’ adalah hari yang kesepuluh, kecuali Ibnu Abbas karena dia mengatakan bahwa Asyura’ adalah hari yang kesembilan. ”

Puasa ‘Asyura Menghapus Dosa-Dosa Yang Lalu.

Diantara keutamaan puasa Asyura’ adalah penghapus dosa-dosa yang lalu. Hal ini berdasarkan hadits yang berbunyi,

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ اَلْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه: (أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ. قَالَ: يُكَفِّرُ اَلسَّنَةَ اَلْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ , وَسُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ. قَالَ: يُكَفِّرُ اَلسَّنَةَ اَلْمَاضِيَةَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اَلِاثْنَيْنِ, قَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ, وَبُعِثْتُ فِيهِ, أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ). رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Qotadah al-Anshory Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam perna ditanya mengenai puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab: “Ia menghapus dosa-dosa tahun lalu dan yang akan datang.” Beliau juga ditanya tentang puasa hari Asyura’, lalu beliau menjawab: “Ia menghapus dosa-dosa tahun yang lalu.” Dan ketika ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab: “Ia adalah hari kelahiranku, hari aku diutus, dan hari diturunkan al-Qur’an padaku.” (HR. Muslim)

Tidak hanya pada tanggal 10 saja dianjurkannya berpuasa akan tetapi juga dianjurkan pada tanggal 9.

Dalam riwayat disebutkan,

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup pada tahun depan, sungguh aku akan melaksanakan puasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

Imam Taqiyuddin Al-Hishni rahimahullah dalam kitabnya Kifayatul Akhyar berkata: “Dianjurkan puasa Tasua’ (tanggal 9) dan Asyura’ (tanggal 10) dari bulan muharram. ”

Juga dianjurkan puasa pada tanggal 11 dalam rangka menyelisihi orang Yahudi.

Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shalllahu alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah kalian di hari Asyura’ dan berbedalah dengan kaum Yahudi, berpuasalah kalian sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya. ” (HR. Ahmad), akan tetapi hadits ini dinilai dhaif sebagian ulama dan sebagiannya menshahihkan.

Jadi bisa disimpulkan bahwa seseorang bisa melakukannya dengan puasa pada tanggal 10 saja atau puasa pada tanggal 9 dan 10 atau puasa pada tanggal 10 dan 11 atau puasa pada tanggal 9, 10 dan 11. Wallahu a’lam.

@ Abul Fata Miftah Murod, Lc

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *