POLEMIK MAKNA SYAWAL

POLEMIK MAKNA SYAWAL

Dalam kalender Hijriyah, bulan yang mengiringi Romadhon dinamai Syawal, bulan ini adalah merupakan bulan yang kesepuluh. Banyak orang memaknai Syawal sebagai bulan peningkatan, benarkah asumsi tersebut? Mengenai hal ini terdapat pro kontra yang menyebar di masyarakat Indonesia, untuk mengetahui lebih lanjut mari kita simak paparan di bawah ini.

Kelompok pertama menyebutkan bahwa Syawal adalah bulan peningkatan, mereka berdalil dengan makna dari Syawal itu sendiri yaitu irtifa’, naik dan meningkat. Kemudian ada dua alasan yang lainnya adalah: Pertama, meningginya derajat kaum Muslimin setelah mereka ikhlas dalam menunaikan shoum Romadhon dan mendapatkan maghfiroh ampunan dari Alloh, sebagaimana sabda Nabi :

(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ))

Barangsiapa berpuasa di bulan Romadhon karena iman dan tulus karena Alloh, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Alloh.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Kedua, karena secara moral dan spiritual kaum Muslim harus mem-pertahankan dan meningkatkan nilai-nilai amaliyah Romadhon pada bulan ini dan bulan-bulan berikutnya hingga datang Romadhon tahun depan. Dalam perspektif ini, Syawal justru bermakna bulan peningkat-an ibadah dan amal solih sebagai kelanjutan logis dari pendidikan moral dan spiritual yang dilakukan selama Romadhon.

Adapun kelompok kedua, mereka mengatakan Syawal bukanlah bulan peningkatan, mereka berdalil dengan makna Syawal yang di-kemukakan oleh Ibnul ‘Allan asy-Syafii al-Makki dalam kitabnya Dalil al Falihin li Thuruq Riyadh al-Shalihin-Syarh Riyadh al Sholihin-, jilid 4 hal 63, terbitan Darul Fikr Beirut:

“Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Syalat al Ibil yang maknanya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian karena dulu orang-orang Arab menggan-tungkan alat-alat perang karena sudah dekat dengan bulan-bulan haram (yang merupakan bulan terlarang perang di masa jahiliyyah.”

Jadi penamaan Syawal bukan karena bulan ini adalah bulan peningkatan amal, namun disebut Syawal karena di bulan ini orang-orang Arab mengangkat atau meninggikan alat-alat perang yang mereka miliki atau dengan bahasa lain gencatan senjata. Mereka menggantungkan pedang, tombak dan lainnya karena dikhawatirkan akan terjadinya peperangan antar sesama mereka yang tentunya hal itu diharamkan mengingat bulan Syawal merupakan salah satu bulan dari bulan-bulan yang diharamkan di dalamnya untuk berperang. Jika mereka masing-masing menenteng pedang dan senjata yang lainnya di bulan Syawal sangat dimungkinkan mereka akan melanggar larangan ber-perang di bulan tersebut.

Inilah dua kubu yang saling bersebrangan dalam memahami makna Syawal. Yang lebih penting dari itu perbedaan pemahaman tentang Syawal akan berimbas kepada rutinitas ibadah yang dilakukan selama Romadhon.

Kelompok pertama tentu akan menga-takan “Romadhon telah lewat amal ibadah dan pahala yang Alloh berikan tidak akan dilipat gandakan lagi, jadi tidak perlu berlebihan dalam ibadah layaknya bulan Romadhon”. Sedang kelompok kedua akan mengatakan sebaliknya “Syawal adalah bulan peningkatan ibadah setelah satu bulan digembleng dalam ketakwaan, bulan ini adalah bulan bukti keimanan dan ketakwaan kita bertambah dari bulan sebelum Romadhon, maka dari itu kita harus meningkatkan ibadah kita dibulan ini”.

Terlepas dari itu semua, ibadah yang kita latih selama satu bulan  yang pelatihnya langsung dari Alloh, sebenarnya aplikasinya pada 11 bulan ke depan, bukan hanya Syawal saja. Ibarat seseorang atau sekelompok orang mengikuti pelatihan yang berlangsung selama satu bulan maka, diharapkan para peserta dapat memperaktikan hasil pelatihan tersebut yang telah dilaksanakannya.

Nah, sebagai ummat Islam yang telah menyelesaikan shoum dan berbagai ibadah lainnya di bulan Romadhon karena Alloh semata bukan yang lainnya. Mari lestarikan amal solih  tersebut dan harus bisa ditambah jangan sampai berkurang apalagi hilang. Prinsip kita sebagai Muslim yang ikhlas adalah: tak peduli apakah bulan Romadhon atau bukan semua aktifitas ibadah tetap dilakukan, hanya saja mungkin di bulan Romadhon ada tambahan waktu mengingat di bulan ini semua amal ibadah Alloh lipat gandakan, sebagaimana sabda Nabi:

 كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يضاعَفُ، الحسنةُ بِعَشْرِ أمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِئَةِ ضِعْف قَالَ الله تَعَالَى: إِلاَّ الصَّوْمَ فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ

“Setiap amal perbuatan anak Adam yang berupa kebaikan akan dilipatgandakan pa-halanya dengan sepuluh kali sehingga tujuh ratus kali lipat. “Alloh  berfirman: “Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu ada-lah untuk-Ku dan Aku yang akan memberi-kan balasannya” (HR. Muslim)

Ketika masa-masa pelatihan usai, kita buktikan akan peningkatan keimanan dan keislaman kita dengan menjaga kesucian dan keluhuran diri. Iman dan takwa yang diraih pada bulan Romadhon dipelihara hingga bertemu dengan bulan Romadhon berikutnya jangan sampai menyusut, segala amal perbuatan yang tidak ada gunanya atau bahkan melalaikan dibuang jauh-jauh, terlebih yang haram terbersit dalam hati saja tidak apalagi dilirik. Tentunya, ini semua dilakukan demi meraih bukti peningkatan keislaman kita, sebagaimana sabda Nabi :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ :  مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Dari Abu Huroiroh , ia berkata, “Rosululloh  pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. at-Tirmidzi dan lainnya)

Ketika kontinyu dalam ibadah dan amal solih sekalipun diluar Romadhon, maka indikasi istiqomah pun ada dalam diri kita. Sedang istiqomah itu sendiri adalah salah satu alamat meningkatnya derajat seorang Muslim Mu’min.

Terakhir, semoga tulisan ini bisa merubah beberapa paradigma: pertama, paradigma lama tentang Romadhon yang menyebar di masyarakat. Ibadah Romadhon jangan diartikan sebagai bulan ketakwaan saja tanpa ada bukti yang jelas setelah berakhirnya bulan tersebut, kedua dengan merubah paradigma tersebut akan berpengaruh terhadap kontinuitas aktifitas amal solih yang dilakukan diluar Romadhon, ketiga hendaknya Romadhon yang telah dilalui dijadikan ajang latihan menempa diri agar lebih bertakwa untuk menghadapi sebelas bulan berikutnya.

Demikianlah ulasan ringkas sekitar polemik Syawal, jangan kita melihat apa arti bulan tersebut tapi bagaimana kita  menyikapi bulan tersebut dan bulan-bulan sesudahnya setelah satu bulan penuh kita berada dalam karantina ketakwaan. Mudah-mudahan kita bisa mengambil ibroh dari ini semua dengan tetap istiqomah dalam ketakwaan kepada Alloh kapan saja dan dimana saja. Wallohu ‘alam.

Sumber: Buletin As-Silmi Bogor

Artikel: www.inilahfikih.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *