Manakah yang Lebih Utama, Beristri Satu Ataukah Poligami?

Manakah yang Lebih Utama, Beristri Satu Ataukah Poligami?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:

Pendapat pertama:

Poligami lebih utama, akan tetapi dengan syarat ia tidak khawatir berlaku aniaya. Jika ia khawatir berlaku tidak adil maka cukuplah satu istri. Dalil mereka adalah sebagai berikut:

Firman Allah: “Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja”. (An-Nisa’:3)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu ia berkata: “Sebaik-baik ummat ini adalah yang paling banyak wanitanya. ” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)

Rasulullah shallallahu alai wasallam bersabda: “Nikahilah wanita yang punya rasa cinta dan banyak anak, karena sesungguhnya saya akan memiliki ummat yang begitu sangat banyak dengan kalian pada hari kiamat.” (HR. An-Nasai, Abu Daud dan Ahmad)

Dapat dimaklumi bahwa orang yang menikahi lebih dari satu wanita jumlah anaknya lebih banyak.

Pendapat Kedua:

Memiliki istri satu lebih utama dengan syarat ia bisa menjaga harga dirinya. Inilah pendapat yang terkenal dari madzhab Imam Ahmad rahimahullah. Dalil mereka sebagai berikut:

1. Mereka menganggap bahwa beristri satu tuntutannya lebih sedikit

2. Beristri satu lebih menghindarkan seorang suami dari kesibukan-kesibukan dalam memenuhi tanggungan.

3. Paling kecil adanya kemungkinan timbul perpecahan.

4. Mereka menafsiri ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwa maksud dari sebaik-baik ummat adalah yang paling banyak wanitanya adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena beliau mampu mengambil sembilan orang wanita dari umatnya sebagai istrinya.

5. Ayat poligami dalam An-Nisa bersifat khusus. Ia terkait pada kondisi ketika seseorang menanggung anak yatim dan khawatir tidak dapat berlaku adil.

Kesimpulan:

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Usaimin berkata: “Akan tetapi walaupun demikian, masing-masing pendapat mempunyai cara pandang sendiri-sendiri. Menurut pendapat kami seyogyanya seseorang melihat kondisinya terlebih dahulu. Terkadang dengan berpoligami dia lebih mendapatkan kemaslahatan. Dan terkadang pula dengan tidak berpoligami dia bisa lebih memperoleh kemasalahatan.

Wallahu A’lam. Semoga Bermanfaat

Referensi:

Sahih Fikih Wanita Karya Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin Rahimahullah Pustaka Akbar Media

Bogor, 9 Agustus 2017

Artikel:

alghurobasite.wordpress.com

Inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *