Larangan-Larangan Seputar Kuburan

1Larangan-Larangan Seputar Kuburan

Dalam kitab-kitab fikih telah dibahas secara detail tentang fikih jenazah dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Diantara masalah yang perlu kita perhatikan adalah masalah yang berkaitan dengan kuburan. Ternyata masih banyak orang-orang yang belum mengetahui tentang larangan-Larangan yang berkaitan dengannya.

Dalam kesempatan ini kami paparkan beberapa larangan yang berkaitan dengan kuburan, yaitu sebagai berikut:

1. Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا اشْتَكَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَتْ بَعْضُ نِسَائِهِ كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ يُقَالُ لَهَا مَارِيَةُ وَكَانَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَأُمُّ حَبِيبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَتَتَا أَرْضَ الْحَبَشَةِ فَذَكَرَتَا مِنْ حُسْنِهَا وَتَصَاوِيرَ فِيهَا فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ثُمَّ صَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّورَةَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

Dari Aisyah –semoga Allah meridhoinya-, dia berkata: “Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam sakit, sebagian istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah, yang dinamakan gereja Mariyah. Dahulu Ummu Salamah dan Ummu Habibah –semoga Allah meridhoikeduanya- pernah mendatangi negeri Habasya. Keduanya menyebutkan tentang keindahannya dan patung-patung/gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengankat kepalanya, lalu bersabda: “Mereka itu, jika ada seorang yang sholih di antara mereka mati, mereka membangun masjid di atas kuburnya, kemudian membuat patung/gambar orang sholih itu di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk manusia di sisi Allah”. (HR. Muslim no:528)

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى اللّه عليه وسلم قال: لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Allah melaknat kaum yahudi dan nashrani sebab menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai masjid. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

ألا فلا تتخذوا القبور مساجد. إني أنهاكم عن ذلك

“Ingatlah jangan jadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian berbuat demikian”. (HR. Muslim)

Imam Ash-Shon’ani rahimahullah berkata dalam kitab Subulus Salam :” Imam Al-Baidhowi berkata, Ketika Yahudi dan Nashrani sujud kepada kuburan-kuburan Nabi mereka dengan tujuan mengagungkannya dan menjadikan kiblat atau arah dalam salat, juga menjadikannya sebagai sesembahan, maka mereka dilaknat dan kaum muslimin dilarang dari perbuatan tersebut.”

Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah berkata dalam syarah sahih muslim: “Para ulama mengatakan, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang seseorang menjadikan kuburan beliau dan yang lainnya sebagai masjid dikarenakan khawatir berlebihan dalam mengagungkannya dan terjadi fitnah. Bahkan bisa jatuh dalam kekafiran sebagaimana menimpa umat-umat terdahulu.”

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam rahimahullah berkata: ” Larangan keras dan sangat diharamkan menjadikan kuburan sebagai masjid dan bermaksud salat didalamnya. Ash-Shin’ani telah mengatakan, hal ini sebagai kehati-hatian atau menutup celah terjadinya pengagungan terhadap mayit, berkeliling dikubur, mengusap usap kuburan dan memanggil namanya, ini termasuk bidah yadi besar.”

2. Larangan Mengapur (Mengecat) dan Membangun Kuburan

Maksud membangun kuburan adalah seperti mendirikan kubah, rumah-rumahan, samping kanan kiri kuburan ditembok, hiasan-hiasan, atau memberikan penerangan.

Dari Jabir radhiyallahu anhu ia berkata:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر، وأن يقعد عليه، وأن يبنى عليه

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang mengapur (mengecat) kuburan, duduk di atasnya, dan membangunnya.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi Asy-Syafii berkata: “Hadis ini menunjukkan larangan mengecat kuburan, membangunnya dan haram duduk diatasnya. Imam Asy-Syafii mengatakan dalam kitab Al-Um, Aku melihat para imam di kota Makkah mereka memerintahkan untuk membongkar kuburan yang diibangun (ditembok)”

Imam Syihabuddin Abul Abbas Ahmad bin Naqib Al-Mishri rahimahullah berkata dalam kitab umdatus salik wa uddatun nasik di kitab janaiz: “Dilarang mengecat dan membangun kuburan”.

Imam Ash-Shon’ani rahimahullah berkata: Dampak kerusakan membuat bangunan dikuburan seperti hiasan-hiasan dan kubah (atap) sangat tampak dan banyak, dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat wanita berziarah kubur, orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid dan membuat penerangan-penerangan.” (HR. Abu Daud).”

Imam Taqiyudin Al-Hishni Asy-Syafii rahimahullah berkata dalam kitab kifayatul akhyar: “Dilarang (bersifat makruh) mengecat kuburan, menulis sesuatu padanya, dan juga membangunnya.”

3. Larangan Duduk di Atas Kuburan dan Salat di Atas atau Menghadap Kuburan

Dari Abi Martsad Al-Ganawi ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لا تجلسوا على القبور ولا تصلّوا إليها

“Janganlah kalian duduk di atas qubur dan janganlah kalian salat menghadapnya”. (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya ada diantara kalian yang duduk di atas bara api kemudian bajunya terbakar, kulitnya terkelupas, itu lebih baik daripada duduk di atas kuburan.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi Asy-Syafii berkata tentang hadis “Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah salat menghadapnya”: “Ini dalil yang tegas tentang larangan salat menghadap kuburan. Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata, dan saya membenci mengagungkan makhluk hingga kuburannya dijadikan masjid, khawatir fitnah menimpanya dan orang-orang setelahnya.”

Syaikh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam syarah riyadus salihin: ” Pengarang kitab (yaitu Imam An-Nawawi) menyebutkan bab haram duduk di atas kuburan (dalam riyadus salihin) karena kuburan didalamnya ada orang muslim yang dihormati (dalam Islam), dan duduk di atasnya bentuk penghinaan”.

Salat menghadap kuburan atau salat diatas kuburan dilarang berdasarkan hadis sahih diatas. Salat menghadap kuburan hanya diperbolehkan ketika seseorang terlambat atau tidak sempat ikut salat jenazah maka diperbolehkan salat jenazah dikuburannya sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab fikih.

4. Larangan Meminta-Minta Penghuni Kubur dan Bertabarruk dengan Kuburan

Ziarah kubur hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجرا

“Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah” (HR. Al-Hakim no.1393, dalam Shahih Al Jami’)

Itulah hakikat tujuan ziarah kubur. Adapun ziarah kubur dengan tujuan yang tidak disyariatkan seperti ngalap berkah dan meminta-minta kepada penghuni kubur maka dilarang.

Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah berkata: “-Diantara bid’ah dalam ibadah dan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah- adalah membuat bangunan di atas kubur, menjadikan kubur tempat ibadah, ziarah kubur untuk tabarruk, bertawassul dengan orang-orang mati dan lainnya yang merupakan sarana kesyirikan”. (Lihat kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad Wa Arrad Ala Ahlisy Syirki Wal Ilhad)

Semoga Bermanfaat. Wallahu A’lam

Referensi:

1. Syarah Riyadhus Salihin Karya Syaikh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin

2. Taisirul Allam Syarah Umdatul Ahkam Karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam

3. Subulus Salam Karya Imam Ash-Shon’ani Al-Yamani

4. Umdatus Salik Wa Uddatun Nasik Karya Imam Ahmad bin Nuqaib Al-Mishri Asy-Syafii

5. Kifayatul Akhyar Karya Imam Taqiyuddin Al-Hishni Asy-Syafii

6. Syarah Sahih Muslim Karya Imam An-Nawawi Asy-Syafii

7. Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad Wa Arrad Ala Ahlisy Syirki Wal Ilhad Karya Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan

 

Oleh: Abul Fata Miftah Murod, Lc

Bogor Kota Hujan, 19 Juli 2017

Artikel:

alghurobasite.wordpress.com

Islamic Book Store:

FP: Toko Al-Ghuroba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *