Kunci Surga

Kunci Surga

Dari Mu’adz bin Jabal dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kunci surga adalah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan lafazhnya, “Kunci-kunci surga adalah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.”

Allah menetapkan bahwa setiap tujuan memiliki kunci pembukanya. Allah menetapkan bahwa kunci shalat adalah thaharah atau bersuci, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kunci shalat adalah thaharah.” (H.R Ahmad dalam al-Musnad)

Kunci haji adalah ihram. Kunci kebaikan adalah jujur. Kunci surga adalah Tauhid. Kunci ilmu adalah bertanya dengan baik dan mendengar dengan baik. Kunci kemenangan dan keberhasilan adalah sabar. Kunci bertambahnya nikmat adaIah syukur. Kunci meraih predikat kewalian adalah cinta dan dzikir. Kunci keberuntungan adalah takwa. Kunci taufik ada harap dan cemas. Kunci pemberian Allah adalah doa. Kunci harapan kepada akhirat adalah zuhud terhadap dunia. Kunci iman adalah merenungkan apa yang Allah mengajak hamba-hamba-Nya untuk merenungkannya. Kunci datang kepada Allah adalah menyerahkan dan memasrahkan hati kepada-Nya, mengikhlaskan untukNya dalam urusan cinta dan benci, melakukan dan meninggalkan. Kunci kehidupan hati adalah tadabur Al-Qur‘an, berdoa di waktu sahur dan meninggalkan dosa-dosa. Kunci meraih rahmat adalah ihsan dalam beribadah kepada Sang Khaliq dan berusaha memberi manfaat kepada hamba-hambaNya. Kunci rizki adalah berusaha yang diiringi dengan istighfar dan takwa. Kunci kemuliaan adalah taat kepada Allah dan RasulNya. Kunci kesiapan untuk kehidupan akhirat adalah pendek angan. Kunci segala kebaikan adalah mengharap Allah dan alam akhirat. Kunci segala keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan.

Ini adalah bab besar dan termasuk di antara bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui kunci-kunci kebaikan dan keburukan, namun tidak ada yang dibimbing untuk mengetahui dan menjaganya kecuali siapa yang mendapat taufik dan bagian dari rahmat Allah yang besar. Sesungguhnya Allah menetapkan bagi setiap kebaikan dan keburukan kunci dan pintu yang dari dan kepadanyalah seseorang masuk, sebagaimana Allah telah menetapkan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya, lalai dari mengingatNya dan lalai dalam menunaikan hak-Nya sebagai kunci neraka, juga sebagaimana Allah menetapkan khamar sebagai kunci segala dosa, menetapkan nyanyian sebagai kunci zina, menetapkan pelepasan pandangan kepada gambar-gambar sebagai kunci ketergantungan dan dorongan pelampiasan, menetapkan kemalasan dan bersantai sebagai kunci kegagalan dan kemiskinan, menetapkan kemaksiatan sebagai kunci kekafiran, menetapkan dusta sebagai kunci kemunafikan, menetapkan kikir dan ambisi sebagai kunci kebakhilan, pemutusan silaturahim, dan mengambil harta bukan dari jalan halal, menetapkan berpaling dari apa yang Rasul bawa sebagai kunci setiap bid’ah dan kesesatan.

Hal-hal ini tidaklah diketahui dengan benar kecuali oleh siapa yang memiliki bashirah yang shahih dan akal yang bersih; yang dengannya dia mengetahui apa yang ada pada dirinya dan apa yang ada di alam ini berupa kebaikan dan keburukan.

Maka seorang hamba harus memberikan perhatian besar terhadap pengetahuan tentang kunci-kunci dan untuk apa kunci-kunci tersebut dibuat, dan Allah, di balik taufik dan keadilanNya, bagi-Nya kerajaan dan bagiNya segala puji, bagi-Nya nikmat dan karunia, Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat dan merekalah yang ditanya.

[Dikutip dari Buku Kemegahan & Keindahan Surga serta Para Penghuninya. Hlm13-15. Penulis: Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah. Diintisarikan oleh : Dr. Ahmad bin Utsman al-Mazyad. Cetakan: Keempat. Penerbit Darul Haq]

www.inilahfikih.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *