KITAB CERAI (TALAK)

KITAB CERAI (TALAK)

Perceraian dalam Islam dibolehkan sebagai jalan terakhir dalam mengatasi masalah rumah tangga; saat kedua pihak suami-istri tidak lagi dapat menemukan jalan, motivasi dan alasan untuk bisa bersatu. Talak dapat terjadi karena keinginan suami (cerai talak) atau keinginan istri (gugat cerai/khuluk).

BAB KHULUK ATAU GUGAT CERAI ISTRI DENGAN MEMBAYAR PADA SUAMI

فصل. والخلع جائز على عوض معلوم وتملك به المرأة نفسها ولا رجعة له عليها إلا بالنكاح جديد ويجوز الخلع في الطهر وفي الحيض ولا يلحق المختلعة الطلاق

Khuluk (perceraian atas permintaan istri) diperbolehkan dengan menawarkan ganti rugi (baik sejumlah harta atau mengembalikan mahar) atas keinginan wanita itu sendiri dan tidak boleh rujuk kecuali dengan pernikahan baru dan khuluk diperbolehkan dalam keadaan suci dan pada saat menstruasi. Khuluk tidak disamakan dengan talak.

BAB TALAK ATAU PERCERAIAN

(فصل) والطلاق ضربان صريح وكناية فالصريح ثلاثة ألفاظ الطلاق والفراق والسراح ولا يفتقر صريح الطلاق إلى النية والكناية وكل لفظ احتمل الطلاق وغيره ويفتقر إلى النية وللنساء فيه ضربان ضرب في طلاقهن سنة وبدعة وهن ذوات الحيض فالسنة أن يوقع الطلاق في طهر غير مجامع فيه والبدعة أن يوقع الطلاق في الحيض أو طهر جامعها فيه وضرب ليس في طلاقهن سنة ولا بدعة وهو أربع الصغيرة والآسية والحامل والمختلعة التي لم يدخل بها.

Dan perceraian itu ada dua jenis: Sharih (jelas) dan Kinayah (sindiran). Talak Jelas itu ada tiga kata: Cerai dan pisah dan bebas. Talak Yang Jelas tidak membutuhkan niat (artinya jika seseorang mengucapkan kata talak pada istrinya maka jatuh talak walaupun hatinya tidak berniat talak), sedangkan talak kinayah yaitu semua lafadz yang memuat talak (mengandung makna atau isyarat talak) dan kinayah itu membutuhkn niat (misalnya suami mengatakan kepada istrinya, “Mulai sekarang kamu tinggal di rumah orang tuamu”, maka jika dibarengi dengan niat talak di hati jatuhlah talak, jika tidak ada niat talak maka tidak jatuh talak). Dalam urusan talak, ada macam : 1. Tidak haram (sunnah), 2. Haram (bidah) yaitu perempuan yang dalam keadaan haid.

Sedang yang hukumnya tidak haram yaitu menjatuhkan talak dalam keadaan baru suci dan belum dikumpuli. Sedangkan talak yang mendapat hukum haram yaitu menjatuhkan talak dalam waktu haid atau dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri terlebih dahulu.

Ada juga talak yang dinilai tidak haram (bidah) dan juga tidak sunnah yaitu wanita kecil,
perempuan menopause (tidak haid lagi), hamil, perempuan yang dikhuluk yang tidak digauli.

JUMLAH TALAK YANG DIMILIKI SUAMI

(فصل) ويملك الحر ثلاث تطليقات والعبد تطليقتين ويصح الاستثناء في الطلاق إذ وصله به ويصح تعليقه بالصفة والشرط ولا يقع الطلاق قبل النكاح وأربع لا يقع طلاقهن الصبي والمجنون والنائم والمكره

Orang yang merdeka (bukan budak) memiliki kesempatanmencerai istrinya tiga kali, sedang hamba (budak) memiliki kesempatan cerai dua kali. Dan sah mengecualikan dalam cerai ketika disambungkan dengan cerai. Dan sah pula menggantungkan cerai dengan sifat dan syarat. cerai tidak sah sebelum menikah.

Ada empat orang yang tidak sah cerainya: 1. Anak Kecil. 2. Orang gila. 3. Orang yang sedang tidur.
4. Orang yang dipaksa.

TALAK RAJ’I DAN TALAK BAIN KUBRO (TALAK TIGA)

(فصل) وإذا طلق امرأته واحدة أو اثنتين فله مراجعتها ما لم تنقض عدتها فإن انفضت عدتها حل له نكاحها بعقد جديد وتكون معه على ما بقي من الطلاق فإن طلقها ثلاثا لم تحل إلا بعد وجود خمس شرائط انقضاء عدتها منه وتزويجها بغيره ودخوله بها وإصابتها وبينونتها منه وانقضاء عدتها منه

Ketika seorang suami menceraikan istrinya satu atau dua kali maka masih ada kesempatan untuk rujuk selama belum habis masa iddahnya. Dan ketika sudah habis masa iddahnya maka boleh untuk menikah kembali dengan pernikahan (akad) baru serta mendapatkan sisa talak.

Apabila dia menceraikan tiga kali maka tidak diperbolehkan rujuk baginya kecuali dengan adanya lima syarat:

1. Habisnya iddah darinya; 2. Sudah dinikahi laki-laki lain 3. Sudah di setubuhi oleh laki-laki lain tersebut 4. Sudah ditalak bain (talak 3) oleh laki- laki lain tersebut; 5. Habisnya iddah dari laki laki-lain tersebut.

Semoga Bermanfaat

Sumber:

Diambil dari kitab Matan Abu Syuja’ Karya Al-Qodhi Abu Syuja’ Asy-Syafii rahimahullah

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *