KHUTBAH HARI RAYA DUA ATAU SATU KALI?

KHUTBAH HARI RAYA DUA ATAU SATU KALI?

Mayoritas ulama madzhab berpendapat bahwa khutbah hari raya adalah dua kali. Berikut keterangan dari masing-masing ulama ahli fikih dari empat madzhab,

وَكَيْفِيَّةُ الْخُطْبَةِ فِي الْعِيدَيْنِ كَهِيَ فِي الْجُمُعَةِ فَيَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ

“Cara khutbah dua hari raya adalah seperti khutbah jumat yaitu khutbah dua kali” [Dari kitab Madzhab Hanafi “Bada’ius Shonai’ Karya Imam ‘Alaud Din Al-Kasani”]

صَلاَةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ وَهِيَ رَكْعَتَانِ بِغَيْرِ أَذَانٍ يَفْتَتِحُ الأُولَى بِسَبْعِ تَكْبِيرَاتٍ مَعَ الإِحْرَامِ، وَالثَّانِيَةَ بِسِتٍّ مَعَ الْقِيَامِ يَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ

“Shalat pada hari raya idul hukumnya sunnah. Dua rakaat tanpa ada adzan. Di rakaat pertama takbir sebanyak 7 takbir (sudah termasuk takbirotul ihram) dan pada rakaat kedua takbir sebanyak enam (sudah termasuk takbirotul intiqol). Setelah shalat dilakukan dua khutbah. ” [Dari kitab Madzhab Maliki “Fikih Imam Malik Karya Imam Abdurrahman Al-Baghdadi Al-Maliki Wafat Tahun 732 H”]

فَيُسَنُّ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ خُطْبَتَانِ عَلَى مِنْبَرٍ

“Disunnahkan setelah salat id untuk melakukan dua khutbah di atas mimbar” [Dari kitab Madzhab Syafii “Al-Um Karya Imam An-Nawawi”]

فَإِذَا سَلَّمَ خَطَبَ بِهِمْ خُطْبَتَيْنِ، يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا

“Apabila imam sudah salam hendaknya khutbah dua kali, diantara dua khutbah diselingi dengan duduk” [Kitab Madzhab Hambali “Al-Mughni Karya Imam Ibnu Qudamah]

Sebagian ulama berpendapat bahwa khutbah hari raya hanya satu kali. Argumennya adalah,

1. Hadits yang menunjukkan dua khutbah adalah dhoif. Yaitu,

Hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah (1279) adalah dari Jabir –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- keluar ke mushalla id pada idul fitri dan idul adha, lalu berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk sejenak, kemudian berdiri lagi”. [Hadits ini disebutkan syaikh Al-Albani dalam Dha’if Ibnu Majah, beliau menyatakan sebagai hadits mungkar.]

2. Ulama yang mengqiyaskan khutbah hari raya dengan khutbah jumat adalah tidak tepat

3. Yang ada justru hadits shahih yang menujukkan bahwa khutbah hari raya hanya satu kali.

Jabir bin Abdillah rodhiyalloohu anhu berkata,

Aku shalat ‘ied bersama Rasulullah. Beliau mengawali shalat sebelum khotbah dengan tanpa azan dan iqamat. Usai shalat, beliau berdiri dengan bersandar kepada Bilal, kemudian memerintahkan agar bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya, menasihati manusia, dan mengingatkan mereka. Kemudian, beliau berlalu hingga sampai ke tempat para wanita, menasihati, dan memberi peringatan kepada mereka. Sabdanya, ‘Bersedekahlah kalian, karena mayoritas kalian adalah bahan bakar neraka jahannam’. Lantas ada seorang wanita yang paling cantik berdiri, pipinya kemerah-merahan, dengan berkata, ‘Mengapa, wahai Rasulullah?’ Jawab beliau, ‘Karena kalian banyak mengeluh dan mengufuri suami.’ Bilal berkata, ‘Mereka lantas menyedekahkan perhiasan mereka dan diletakkan di baju Bilal berupa anting dan gelang.’” (Hr. Bukhori dan Muslim)

Zohir (makna yang langsung tampak -ed) dari hadits ini menunjukkan bahwa Rosulullah hanya berkhotbah sekali.

Pendapat ini yang diambil ulama-ulama kontemporer semisal syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin dan ulama-ulama timur tengah lainnya. Walaupun demikian ulama-ulama tersebut membolehkan khutbah dua kali.

قال ابن عثيمين رحمه الله : السنة أن تكون للعيد خطبة واحدة، وإن جعلها خطبتين فلا حرج

“Yang sunnah khutbah hari raya adalah satu khutbah dan jika dilakukan dengan dua khutbah maka tidak mengapa. ” [ مجموع الفتاوى : (16/ 248)]

Kesimpulan dari yang kami telaah dari pendapat-pendapat ulama bahwa dalam masalah ini ada kelapangan untuk memilih dari dua pendapat tersebut. Walloohu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *