Jumlah Rakaat Shalat Tarawih Di Masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Dan Sahabat Umar Radhiyallahu Anhu

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih Di Masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Dan Sahabat Umar Radhiyallahu Anhu

Tentang keutamaan shalat tarawih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قام رمضان إيماناً واحْتسَاباً غُفِرَ لَهُ ما تَقَدّمَ مِن ذَنْبِه” . مُتّفقٌ عَلَيهِ

“Barangsiapa qiyamullail di bulan ramadhan dengan iman dan mengharap pahala niscaya Allah ampuni dosanya yang telah lalu. ” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya shalat tarawih pernah dilakukan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dari Nu’man bin Basyir, Radhiyallahu anhu : Ia berkata: “Kami melaksanakan qiyamul lail (tarawih) bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam 23 bulan Ramadhan, sampai sepertiga malam. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan (berakhir) sampai separoh malam. Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadhan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” [HR. Nasa’i, Ahmad, Al Hakim. Shahih]

Akan tetapi kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak melakukannya secara berjamaah di masjid karena khawatir dianggap wajib. Setelah itu di masa Umar radhiyallahu anhu dihidupkan kembali secara berjamaah di masjid.

Lalu berapa jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan di masa Umar radhiyallahu anhu ketika menghidupkan kembali setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meninggalkannya?

Imam Ash-Shon’ani rahimahullah dalam kitabnya Subulus Salam Syarah Bulughul Maram ketika mengomentari hadits:

مَنْ قام رمضان إيماناً واحْتسَاباً غُفِرَ لَهُ ما تَقَدّمَ مِن ذَنْبِه. مُتّفقٌ عَلَيهِ

“Barangsiapa qiyamullail di bulan ramadhan dengan iman dan mengharap pahala niscaya Allah ampuni dosanya yang telah lalu. ” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Mengatakan:

والحديث دليل على فضيلة قيام رمضان، والذي يظهر أنه يحصل بصلاة الوتر إحدى عشرة ركعة، كما كان صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم يفعل في رمضان وغيره كما سلف في حديث عائشة. وأما التراويح على ما اعتيد الآن فلم تقع في عصره صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم إنما كان ابتدعها عمر في خلافته وأمر أُبياً أن يجمع بالناس واختلف في القدر الذي كان يصلي به أبيّ فقيل كان يصلي بهم إحدى عشر ركعة وروي إحدى وعشرون وروي عشرون ركعة وقيل ثلاث وعشرون وقيل غير ذلك وقد قدمنا تحقيق ذلك

“Hadits ini menjadi dalil tentang keutamaan shalat tarawih pada bulan ramadhan, (dzahirnya) keutamaan ini bisa diraih dengan shalat tarawih beserta witirnya sebanyak sebelas rakaat sebagaimana dilakukan Nabi shallallahu alaihi wasallam pada bulan ramadhan dan bulan lainnya seperti dijelaskan pada hadits Aisyah yang lalu. Adapun shalat tarawih yang dilakukan secara rutin (setiap malam dengan berjamaah di masjid) seperti saat ini tidak pernah terjadi pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam (karena di zaman Nabi hanya terjadi beberapa hari saja). Akan tetapi hal itu terdapat pada zaman Umar radhiyallahu anhu di masa pemerintahannya, beliau memerintahkan sahabat Ubay untuk melaksanakannya bersama para jamaah. Dan terjadi perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh Ubay radhiyallahu anhu. Ada yang mengatakan sebelas rakaat, sebagian riwayat mengatakan dua puluh satu rakaat, sebagian riwayat mengatakan dua puluh rakaat, sebagian riwayat lagi mengatakan dua puluh tiga rakaat  dan sebagian riwayat lain berpendapat dengan jumlah selain itu, dan pada pembahasan yang lalu sudah kami sebutkan kepastiannya. ”

Wallahu a’lam. Semoga Bermanfaat

@Abul Fata Miftah Murod, Lc; S. Ud

Artikel:

www.inilahfikih.com

1 Comment

  1. Kenapa ya tiap menjelang bulan ramadhon ada saja orang yang mempertanyakan jumlah rokaat sholat tarawih apa tidak ada pertanyaan Yang lain , masalah itu tinggal pilih saja selesai. Bagaikan orang naik kendaraan apa saja mau pergi kemana saja mau jarak jauh atau dekat ya silahkan tak perlu dihalang halangi yang penting tujuan benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *