ISTRI NYUMBANG RENOVASI MASJID TANPA IJIN SUAMI 

ISTRI NYUMBANG RENOVASI MASJID TANPA IJIN SUAMI 

Assalamu alaikum ustadz, saya mau tanya. Saya kan usaha sendiri dan mandiri secara keuangan. Saya kemudian menyumbangkan uang saya untuk renovasi masjid tanpa sepengetahuan suami. Suami saya sedang bekerja di pulau seberang. Apakah saya harus meminta izin suami ketika menggunakan harta hasil usaha saya ustadz?

Jawaban: Menurut hukum Islam, istri memiliki otoritas atau hak mengatur keuangan tersendiri. Seorang suami tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan pendapatan si istri. Apalagi, jika klausul ini menjadi syarat ketika akad nikah. Misalnya, calon istri yang juga memiliki penghasilan atau bisnis memberi syarat dalam akad nikah jika penghasilannya setelah menikah tak boleh diganggu gugat.
Tetapi, dalam hidup berumah tangga, mestinya apa pun bisa dikomunikasikan. Seperti, kedua belah pihak saling memahami dan sepakat untuk mengalokasikan penghasilan tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maka, dalam kondisi munculnya kesepakatan itu tak jadi soal.
Kasus semacam ini banyak ditemui di tengah-tengah masyarakat. Kedua pasangan saling bahu-membahu dan bekerja sama mencari nafkah. Meski demikian, syariat islam tetap menggarisbawahi bahwa kasus tersebut tidak lantas menjadi alasan suami mengabaikan kewajiban nafkah. Islam tetap menekankan bahwa tugas ada di pundak suami.
Bahkan nafkah yang diberikan suami untuk segenap keluarganya lebih besar ketimbang infak untuk perang, memerdekakan budak, ataupun pemberian bagi orang fakir miskin.

Hukum dasarnya suami tidak berhak campur tangan soal gaji atau pendapatan istrinya. Namun, jika muncul perselisihan terkait pendayagunaan gaji antarkedua belah pihak, hendaknya kembali ke kesepakatan awal diselesaikan dengan dialog dan komunikasi.
Disinilah adilnya islam terhadap perempuan. sang suami memiliki kewajiban memberi nafkah istri dari harta yang dia dapatkan. Sementara sang istri tidak memiliki kewajiban memberikan penghasilannya kepada suami. Tapi jika sang istri memberikan penghasilannya kepada suami atau menggunakannya bersama-sama, maka itu suatu kebaikan yang diutamakan.
Kesimpulannya, sebenarnya anda bebas menggunakan uang atau harta yang menjadi milik anda, walaupun tanpa izin dari suami. Apalagi jika harta itu digunakan dalam kebaikan dan di jalan Allah, sebagaimana yang Anda sebutkan, anda menggunakan harta anda untuk merenovasi masjid. Tapi jika anda ingin meminta izin kepada suami, itu sah-sah saja. Jika suami anda suami yang baik, pasti dia akan senang dengan apa yang Anda lakukan.
Allah berfirman di dalam quran surat an-Nisa ayat 4;

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”
Ayat ini menjelaskan bahwa suami boleh mengambil harta istri jika disertai kerelaan hati. Dan kerelaan hati itu lebih dari sebatas izin. Karena terkadang ada wanita yang dia menghibahkan atau menghadiahkan hartanya atau semacamnya, disebabkan tekanan suami kepadanya. Sehingga diberikan tanpa kerelaan. Disimpulkan dari sini, bahwa yang menjadi acuan tentang halalnya harta istri adalah adanya kerelaan dari si istri.

Jika harta mahar, yang itu asalnya dari suami diberikan kepada istrinya, tidak boleh dinikmati suami kecuali atas kerelaan hati sang istri, maka harta lainnya yang murni dimiliki istri, seperti penghasilan istri atau warisan milik istri dari orang tuanya, tentu tidak boleh dinikmati oleh suaminya kecuali atas kerelaan istri juga. Wallahu a`lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *