ISTILAH SOK SUCI

ISTILAH SOK SUCI

Ungkapan “sok suci”, seringkali dilontarkan oleh seseorang, di antaranya ketika ada orang lain menasehati dirinya yang sedang bergelimang dalam kemaksiatan atau keburukan. Bahkan terkadang ketika mendapati orang lain yang sedang menapaki jalan ketaatan, yang dulu masih malas shalat, malas ke masjid, sering maksiat, atau sering meninggalkan kewajiban-kewajiban dari Allah, lalu ia bertaubat dan hijrah, seketika itu teman-temannya yang belum mau taat dan hijrah mencibirnya dengan ungkapan “sok suci” lantaran ia menolak ajakan untuk berbuat buruk dan kedurhakaan seperti sebelum ia bertaubat dan hijrah.

Ketauhilah, ia bukanlah “sok suci”, ia hanyalah seorang hamba yang lemah, hamba yang tidak dijamin terbebas dari dosa, hamba yang memiliki hawa nafsu dan syahwat namun ia adalah hamba yang sangat berharap termasuk orang-orang yang disucikan oleh Allah. Disucikan bukan berarti tidak berdosa sama sekali dalam hidupnya, karena pada dasarnya setiap manusia pasti jatuh dalam dosa. Disucikan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا

Seandainya tidaklah karena Karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian bersih dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu selama-lamanya. (QS. An-Nur: 21)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Seandainya Allah tidak memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk bertobat, kembali kepada-Nya, dan membersihkan dirinya dari keburukan, kekotoran, dan semua akhlak yang rendah, yang masing-masing orang disesuaikan dengan keadaannya, tentulah tidak akan ada seorang pun yang bersih dan tidak pula beroleh kebaikan.

وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ

tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An-Nur: 21)

Masih dalam kitab tafsirnya, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan;

Firman Allah;

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dengan beriman. (QS. Al-A’la: 14)

Yakni menyucikan dirinya dari akhlak-akhlak yang rendah dan mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah. kepada Rasul-Nya, semoga salawat dan salam terlimpahkan kepadanya.

Firman Allah;

وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia salat. (QS. Al-A’la: 15)

Yakni dia mendirikan shalat tepat pada waktunya masing-masing karena mengharapkan rida Allah dan taat kepada perintah-Nya serta merealisasikan syariat-Nya.

Semoga Allah menjaga kita dari berbuat keburukan dan kedurhakaan.

@Abul Fata Miftah Murod, Lc; S. Ud

 

Content retrieved from: https://inilahfikih.com/2022/08/sok-suci/.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *