INI AJARAN ULAMA SYAFII ATAU AJARAN WAHABY?

INI AJARAN ULAMA SYAFII ATAU AJARAN WAHABY?

Ketika ada ajaran yang dianggap sedikit berbeda dengan apa yang diamalkan dan diyakini kebanyakan masyarakat, oleh sebagian orang langsung mengecapnya sebagai ajaran wahaby, padahal tidak demikian adanya, justru malah merupakan ajaran ulama syafii.

Inilah yang melatarbelakangi penulisan artikel yang sederhana ini, dengan tulisan ini diharapkan bisa memberikan pencerahan kepada kita semua agar lebih teliti, hati-hati dan bijaksana dalam menangkap segala problematika ummat.

Tidak semua ajaran yang berbeda dengan apa yang di amalkan dan diyakini kebanyakan masyarakat langsung dicap sebagai pendapat wahaby, akan tetapi harus di kaji dengan teliti dan hati-hati serta disikapi secara ilmiah agar tidak mudah terbawa suasana apalagi hanya sekedar ikut-ikutan saja. Yang dituntut bukan hanya mengikuti kebanyakan orang akan tetapi harus diukur dengan apa yang tertuang dalam Al-Quran, Al-Hadits dan Ijma’ dengan bimbingan para sahabat dan ulama.

Dalam kesempatan ini perlu kiranya kami sampaikan beberapa contoh ajaran-ajaran ulama syafii yang oleh sebagian orang dianggap sebagai ajaran wahaby. Semoga membuka wawasan kita sehingga tercipta rasa persatuan dan kebersamaan di tengah-tengah ummat Islam.

Berikut contoh ajaran-ajaran ulama syafii yang dianggap sebagai ajaran wahaby oleh sebagian orang:

1. Tidak membaca doa-doa disetiap mencuci/mengusap anggota wudhu

Membaca basmalah dianjurkan ketika hendak berwudhu dan hukumnya sunnah menurut mayoritas ulama, dan dianjurkan juga berdoa setelah wudhu. Adapun membaca doa-doa tertentu disetiap mencuci atau mengusap anggota wudhu sama sekali tidak diajarkan Rasulullah shallallallahu alaihi wasallam dan sahabatnya.

Berkata Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah: “Adapun doa-doa disetiap mencuci atau mengusap anggota wudhu sama sekali tidak ada contoh dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.” (Lihat Kitab Al-Adzkar Bab Bacaan-Bacaan ketika wudhu)

Inilah ajaran ulama syafii bukan ajaran wahaby

2. Qunut saat shalat tarawih dimulai sejak hari pertama ramadhan

Ini sebagian pendapat ulama syafii, jadi tidak mesti dimulai dipertengahan ramadhan.

Berkata Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah: “Dianjurkan qunut dipertengahan bulan ramadhan dirakaat terakhir salat witir, dan madzhab kami punya pendapat hal itu dilakukan diseluruh hari-hari bulan ramadhan.” (Lihat Kitab Al-Adzkar Bab Qunut Subuh)

Inilah ajaran sebagian ulama syafii bukan ajaran wahaby

3. Tidak mengangkat tangan dan tidak mengusap wajah saat qunut

Yang tidak mengangkat tangan saat qunut dan jika ada orang yang melarang seseorang mengusap wajahnya saat qunut ternyata ikut pendapat sebagian ulama syafii bukan ikut pendapat wahaby.

Berkata Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah: “Sahabat-sahabat kami (dimadzhab syafii) berbeda pendapat tentang hukum mengangkat tangan saat qunut dan mengusapkan ke wajah dalam 3 pendapat: Pertama: Pendapat yang  paling sahih adalah mengangkat tangan dan tidak mengusapkan ke wajahnya, kedua: Mengangkat tangan dan mengusapkannya, ketiga:   Tidak mengusapkan dan tidak mengangkatnya. ” (Lihat Kitab Al-Adzkar Bab Qunut Subuh)

4. Takbir keempat dalam shalat jenazah tidak membaca doa alias langsung salam

Jika ada orang yang berpendapat seperti ini jangan merasa aneh walaupun terlihat berbeda dengan yang diamalkan dikebanyakan masyarakat.

Dalam takbir keempat saat shalat jenazah boleh langsung salam tidak harus membaca doa lagi.

Berkata Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah berkata: “Adapun dalam takbir keempat hukum asalnya tidak diwajibkan membaca dzikir, akan tatapi dianjurkan saja in syaAlloh akan kami bahas.”

“Dalam takbir keempat tidak diwajibkan membaca doa sesuai kesepakatan ulama, hanya dianjurkan saja.” [Lihat Kitab Al-Adzkar Bab Jenazah]

5. Tidak membaca dzikir-dzikir tertentu dengan mengangkat suara disaat mengiring jenazah

Kalau dikebanyakan masyarakat disaat mengiring jenazah biasanya mereka bersama-sama membaca “laa ilaaha illallaah” sambil berjalan mengiring jenazah dan kadang membaca sholawat.

Adapun jika ada orang yang mengingkari perbuatan tersebut bukanlah seorang wahaby akan tetapi berpegang pada pendapat ulama syafii.

Berkata Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah: ” Ketahuilah bahwa yang benar sesuai para salaf adalah diam saat mengiring jenazah, tidak mengangkat suara dengan bacaan quran atau dzikir dan lain sebagainya.” (Lihat Kitab Al-Dzkar Bab Mengiring Jenazah)

6. Tidak mengumandangkan adzan saat memasukkan mayit ke liang lahat

Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah seorang alim besar dalam madzhab syafii, sangat paham betul segala rangkaian bacaan yang harus dibaca seorang muslim disaat memasukkan mayat ke kuburan. Dalam kitabnya Al-Adzkar beliau membuat bab “Bacaan-bacaan yang harus dibaca seseorang ketika memasukkan mayat ke kuburan”, beliau hanya menyebutkan 2 doa yang harus dibaca sesuai riwayat hadis dan sama sekali tidak menyebutkan  dan tidak pula menganjurkan untuk mengumandangkan adzan. Jadi meninggalkan adzan saat memasukkan mayit ke kuburan adalah sesuatu yang biasa dan bukanlah ajaran orang wahaby.

7. Berpendapat tidak sampainya pahala membaca Al-Quran kepada mayit

Jika ada orang berpendapat demikian bukanlah seorang wahaby justru ini pendapat Imam Asy-Syafii rahimahullah dan ulama-ulama syafii.

Berkata Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah: “Para ulama berbeda pendapat tentang sampainya pahala Al-Quran kepada mayit, dan pendapat yang masyhur dari madzhab syafii dan kumpulan ulama syafii bahwa hal itu tidak sampai.”

8. Hanya membaca surat Al-kahfi di malam atau hari jumat dan tidak mengkhususkan membaca surat yasin

Kebanyakan masyarakat kita ketika malam atau hari jumat mengkhususkan membaca surat yasin. Ada juga yang membaca surat yasin dan Al-kahfi. Dan ada juga yang hanya membaca surat Al-kahfi dan mengingkari pengkhususan membaca surat yasin.

Tidak membaca surat yasin di hari atau malam jumat bukan berarti ia seorang wahaby akan tetapi karena ia juga membaca kitab Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah dalam kitab Al-Adzkar. Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah membuat bab “Dzikir dan doa yang dianjurkan pada hari atau malam jumat” dan beliau rahimahullah berkata: “Dianjurkan memperbanyak pada hari atau malam jumat dengan membaca Al-Quran (secara umum), dzikir, doa, solawat atas rasulullah dan membaca surat Al-Kahfi pada hari jumat. Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata dalam kitab Al-Um: Saya anjurkan juga membaca surat Al-Kahfi dimalam harinya.”

Beliau rahimahullah sama sekali tidak menganjurkan membaca surat yasin apalagi mengkhususkannya. Beliau hanya menganjurkan membaca Al-Quran secara umum.

9. Tidak membungkukkan punggung saat bertemu dengan seseorang baik yang dianggap alim, tua, tokoh maupun lainnya

Mungkin banyak yang melakukan ini, ada juga yang menolaknya karena memang hal ini dianggap sikap yang berlebihan dalam menghormati seseorang. Dan ini pun adalah pendapat ulama syafii bukanlah pendapat wahaby.

Berkata imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah: “(Perbuatan) yang dibenci adalah membungkukkan punggung dalam kondisi apapun dan kepada siapapun…..dan jangan terperdaya dengan banyaknya orang yang melakukannya kepada orang yang dianggap alim, baik, dan yang dianggap utama”. (Lihat Kitab Al-Adzkar)

10. Haramnya alat musik

Musik dijadikan konsumsi oleh kebanyakan orang. Akan tetapi tidak sedikit juga orang yang mengharamkannya. Bagi pecinta musik ketika dinasehati bahwa musik itu haram secara langsung akan menolak nasehat tersebut bahkan sampai kepada hujatan dan cacian kepada orang yang menasihatinya. Bahkan ada orang-orang yang menyindir dengan nada yang kurang baik seraya berkata: “Dikit-dikit haram, dasar ajaran wahaby…dll”.

Ketahuilah bahwa yang mengharamkan musik bukan wahaby akan tetapi para ulama syafii. Silahkan baca:

Ulama Madzhab Syafii Berbicara Tentang Alat-Alat Musik

11. Bercadar

Cadar oleh sebagian orang dianggap sesuatu yang aneh dan asing, bahkan sampai kepada tuduhan keji terhadap syariat yang satu ini. Wanita bercadar dianggap teroris, ninja, kelelawar dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan pula kata-kata wahaby disematkan kepada wanita bercadar.

Padahal sesungguhnya cadar adalah ajaran Islam dan juga ajaran ulama syafii. Silahkan baca:

Bagaimana Pandangan Para Sahabat dan Ahli Tafsir Senior Tentang Jilbab dan Cadar?

12. Mengumandangkan adzan subuh 2 kali. Adzan pertama sebelum masuk waktu subuh dan adzan kedua saat masuk waktu subuh.

Dikebanyakan masyarakat mungkin belum familiar tentang adzan 2 kali untuk shalat subuh, bahkan jika diamalkan bisa menimbulkan sangkaan buruk dari masyarakat, bisa-bisa dianggap sebagai aliran sesat.

Padahal masalah ini sudah ada semenjak zaman Nabi dan ini juga difatwakan oleh ulama-ulama syafii.

Juga diperbolehkan adzan subuh sebelum masuk waktunya. Berkata Imam Ibnu Naqib Asy-Syafii  rahimahullah: “Tidak sah adzan sebelum masuk waktunya kecuali dalam shalat subuh, hal itu diperbolehkan adzan setelah pertengahan malam. ” (Lihat Kitab Umdatus Salik Wa Uddatun Nasik Bab Adzan)

13. Keluarga mayit membuat makanan dan mengumpulkan orang adalah perbuatan terlarang

Perbuatan ini tidak dibenarkan oleh ulama-ulama syafii dan yang melarang bukan orang wahaby.

Berkata Imam Ibnu Naqib  Asy-Syafii rahimahullah: “Apa yang dilakukan oleh keluarga mayit dengan membuat makanan dan mengumpulkan orang-orang adalah perbuatan bid’ah yang tidak baik” (Lihat Kitab Umdatus Salik Wa Uddatun Nasik Bab Jenazah)

Berkata Syaikh Abu Bakr Ad-Dimyati Asy-Syafii rahimahullah: ” Betul, apa yang dilakukan orang-orang dengan berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dan dibuatkan makanan adalah merupakan perbuatan bid’ah yang mungkar, yang mendatangkan pahala bagi orang yang melarangnya.” [Lihat Kitab I’anatuth thalibin Bab Jenazah]

14. Saat mengubur mayit tidak meninggikan kuburan melewati satu jengkal. Dan dibenci mengapur (mengecat), menembok dan menulis di kuburan. Serta tidak menginjak atau menduduki kuburan.

Semua ini adalah ajaran ulama syafii dan bukan ajaran wahaby.

Berkata Imam Taqiyuddin Al-Hishni Asy-Syafii rahimahullah: “Meninggikan kuburan hanya sejengkal…..Dianjurkan tidak menambah tanah dari selain tanah yang digali dan dibenci mengecat, menulis dan membangun atau mendirikan bangunan, jika mendirikan bangunan seperti kubah atau tembok sekelilingnya, menara dan lain sebagainya, maka jika itu ada di pemakaman umum harus dirobohkan, karena membangun dalam kondisi itu diharamkan. ” (Lihat Kitab Kifayatul Akhyar Bab Jenazah)

15. Tidak melafadzkan niat

Kebanyakan masyarakat ketika niat dalam shalat dan puasa biasanya dilafadzkan dan sebagian masyarakat tidak melafadzkan. Bisa dibilang ada perdebatan dalam masalah ini.

Namun hakikatnya niat adalah tempatnya di hati dan sama sekali tidak disyaratkan untuk melafadzkan. Jika ada orang yang tidak melafadzkan niat jangan merasa aneh karena memang hal itu tidak wajib. Dan inipun sudah dinyatakan oleh ulama syafii.

Berkata Imam As-Suyuti Asy-Syafii rahimahullah berkata: “(Niat) tempatnya di hati dalam semua keadaan. Karena hakikat niat adalah maksud hati untuk berbuat sesuatu. Sebagaian ulama mengatakan, niat itu berbarengan dengan permulaan perbuatan…….kesimpulannya ada 2 hal: Pertama: Tidak cukup (tidak sah) seseorang hanya melafadzkan niat tanpa ada niat dihati. Kedua: Tidak disyaratkan melafadzkan niat jika sudah niat dihati.” (Lihat Kitab Al-Asybah Wa An-Nadzoir Bab Niat)

16. Tidak mengeraskan bacaan dzikir setelah shalat

Perkara ini menjadi perbincangan diantara para ulama, diantara ulama yang menganjurkan mengeraskan dzikir setelah salat adalah imam Ibnu Hazm dari madzhab Adz-Dzohiri. Akan tetapi perlu diketahui bahwa ulama-ulama syafii menganjurkan untuk tidak mengeraskannya seperti Imam Asy-Syafii rahimahullah dan ini yang dipilih Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah [Lihat Kitab Syarah Sahih Muslim Bab Dzikir Setelah Shalat]

Jadi, meninggalkan mengeraskan dzikir setelah shalat bukanlah ajaran wahaby melainkan ajaran ulama syafii.

17. Cingkrang dalam memakai celana atau lainnya dan memelihara jenggot

Sebagian orang yang kurang paham syariat ini beranggapan bahwa cingkrang atau tidak isbal dalam berpakaian dan memelihara jenggot adalah orang wahaby. Tentu ini adalah anggapan yang salah kaprah. Justru ulama-ulama syafii banyak mensunnahkan bahkan ada yang mewajibkan memelihara jenggot. Juga dalam masalah cingkrang atau tidak isbal dalam berpakaian, para ulama syafii sangat menganjurkan.

Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah ketika mengomentari hadits 5 perkara yang termasuk fitrah dalam islam yang dicantumkan dalam kitabnya riyadhus shalihin, beliau rahimahullah mengatakan: “Janganlah engkau mengambil sedikitpun dari jenggot.” Dalam kitab syarah sahih muslim dalam menjelaskan hadis larangan isbal atau menjulurkan pakaian sehingga menutupi kaki beliau rahimahullah mensunnahkan untuk cingkrang atau tidak menutupi mata kaki dalam berpakaian.

Terlepas memelihara jenggot hukumnya wajib atau sunnah, cingkrang hukumnya wajib atau sunnah namun ulama-ulama syafii sangat menganjurkan memelihara jenggot dan cingkrang sehingga ajaran ini bukanlah ajaran wahaby.

Inilah yang bisa disampaikan semoga bermanfaat. Wallahu a’lam

 

Oleh: Abul Fata Miftah Murod, S. Ud, Lc

 

Artikel:

www.inilahfikih.com

2 Comments

  1. Mohon Penjelassn Apa itu Wahabi dan hidup di zaman thn berapa…Krn sekarang ngikuti sunnah juga di katakan wahabi bukan 4imam mashab. Siapakah yg mengusung dan menggelari kata Wahabi dan siapa sebenarnya pengikutnya. Seperti apa ibadahnya Wahabi.

    1. penyebutan wahaby muncul dari orang2 yg merasa terganggu dg dakwah tauhid dan kebenaran. mrk tdk bisa menghadang dakwah al haq dg ilmiyah akhirnya dg cara memfitnah. semoga ISLAM SENANTIASA JAYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *