HUKUM MENCICIPI MAKANAN KETIKA MEMASAK DALAM KONDISI PUASA

HUKUM MENCICIPI MAKANAN KETIKA MEMASAK DALAM KONDISI PUASA

Apa hukum seseorang mencicipi makanan ketika memasak makanan untuk berbuka puasa? Batalkah?

Jawaban:

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Al-Hambali  dalam kitabnya Al-Mugni mengatakan;

قَالَ أَحْمَدُ: أَحَبُّ إلَيَّ أَنْ يَجْتَنِبَ ذَوْقَ الطَّعَامِ، فَإِنْ فَعَلَ لَمْ يَضُرَّهُ، وَلَا بَأْسَ بِهِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: لَا بَأْسَ أَنْ يَذُوقَ الطَّعَامَ وَالْخَلَّ وَالشَّيْءَ يُرِيدُ شِرَاءَهُ. وَالْحَسَنُ كَانَ يَمْضُغُ الْجَوْزَ لِابْنِ ابْنِهِ وَهُوَ صَائِمٌ. وَرَخَّصَ فِيهِ إبْرَاهِيمُ. قَالَ ابْنُ عَقِيلٍ: يُكْرَهُ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ، وَلَا بَأْسَ بِهِ مَعَ الْحَاجَةِ، فَإِنْ فَعَلَ فَوَجَدَ طَعْمَهُ فِي حَلْقِهِ أَفْطَرَ، وَإِلَّا لَمْ يُفْطِرْ

“Imam Ahmad berkata, aku lebih suka hendaknya meninggalkan mencicipi makanan, namun jika dilakukan tidak membatalkan dan tidak ada masalah. Ibnu Abbas  berkata, tidak mengapa seseorang mencicipi makanan, cuka dan sesuatu yang hendak dibeli. Al-Hasan  pernah mengunyah kelapa untuk cucunya sedang ia dalam keadaan puasa. Dan Ibrahim  membolehkan tindakan seperti ini. Ibnu ‘Uqail  berkata, dimakruhkan bagi orang yang tidak ada kebutuhan untuk melakukan itu, dan tidak mengapa jika memang dibutuhkan, apabila dilakukan dan ia mendapati rasa makanan tersebut di tenggorokannya maka puasanya batal, apabila tidak ditemukan maka tidak batal. ”

Kesimpulannya, mencicipi makanan bagi orang yang berpuasa hukumnya diperbolehkan jika memang ada kebutuhan dan hal ini tidak membatalkan puasanya, asal makanan yang dicicipi tidak ditelan. Sehingga sebaiknya apabila di suatu keluarga ada yang memasak untuk menu berbuka, hendaknya yang mencicipi hanya orang yang memasak saja, orang lain tidak perlu ikut mencicipinya, kecuali betul-betul mengharuskan untuk melakukannya.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *