HUKUM BERSIWAK DALAM KEADAAN PUASA

HUKUM BERSIWAK DALAM KEADAAN PUASA

Mayoritas ulama diantaranya Imam An-Nakhoi, Ibnu Sirin, Urwah bin Zubair, Malik, Abu Hanifah, Ashabur ro’yu (Ahlu Ra’yu), Umar (dalam sebuah riwayat), Ibnu Abbas dan Aisyah membolehkan bersiwak dalam keadaan berpuasa baik di waktu pagi (sebelum matahari tergelincir) maupun di siang/sore hari (setelah matahari tergelincir).

Mayoritas ulama berdalil dengan keumuman hadits tentang keutamaan dan perintah bersiwak secara mutlak tanpa ada pengecualian.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ. رواه أحمد

“Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb”. (Hadits shahih riwayat Ahmad)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ

“Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk menyikat gigi (bersiwak) setiap kali berwudhu.” (HR. Al-Bukhari).

Madzhab syafii dan Hambali memperbolehkan bagi orang yang berpuasa bersiwak pada waktu sebelum matahari tergelincir. Adapun setelah tergelincirnya matahari hukumnya makruh.

Pendapat ini juga berasal dari Imam Atho’, Mujahid, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Umar (dalam suatu riwayat), Al-Auzai, dan Muhammad bin Al-Hasan.

Mereka berdalil dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam:

لَخَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِهْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ

“Sungguh, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada aroma misik.” (HR. al-Bukhari)

Imam Asy-Syairozi Asy-Syafii rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Muhadzdazab tentang hadits tersebut: “Bersiwak bisa menghilangkan bau mulut orang berpuasa (padahal ada keutamaan) maka hukumnya makruh, karena bau itu adalah sebagai bukti ibadah tersebut yang diakui beraroma wangi, sehingga makruh menghilangkannya layaknya darah orang yang mati syahid (tanpa harus dimandikan). ”

Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah berkata dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim Bab Bersiwak: “Dalam madzhab syafii bersiwak bagi orang yang berpuasa hukumnya makruh jika dilakukan setelah matahari tergelincir karena bisa menghilangkan bau mulutnya (yang memiliki keutamaan).”

Imam Al-Ghozali Asy-Syafii rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Wajiz: “Bersiwak tidak dimakruhkan kecuali bagi orang yang berpuasa di waktu matahari sudah tergelincir. ”

Imam Ibnu Qudamah Al-Hambali rahimahullah(ulama besar madzhab hambali) berkata dalam kitabnya Al-Mugni:

قَالَ أَحْمَدُ: لَا بَأْسَ بِالسِّوَاكِ لِلصَّائِمِ. قَالَ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ: «رَأَيْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَا لَا أُحْصِي، يَتَسَوَّكُ وَهُوَ صَائِمٌ» . قَالَ التِّرْمِذِيُّ: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. وَقَالَ زِيَادُ بْنُ حُدَيْرٍ: مَا رَأَيْت أَحَدًا كَانَ أَدْوَمَ لِسِوَاكٍ رَطْبٍ وَهُوَ صَائِمٌ، مِنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، وَلَكِنَّهُ يَكُونُ عُودًا ذَاوِيًا. وَلَمْ يَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ بِالسِّوَاكِ أَوَّلَ النَّهَارِ بَأْسًا، إذَا كَانَ الْعُودُ يَابِسًا. وَاسْتَحَبَّ أَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ تَرْكَ السِّوَاكِ بِالْعَشِيِّ. قَالَ أَحْمَدُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «خُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ الْأَذْفَرِ» لِتِلْكَ الرَّائِحَةِ لَا يُعْجِبُنِي لِلصَّائِمِ أَنْ يَسْتَاكَ بِالْعَشِيِّ

“Imam Ahmad mengatakan, tidak mengapa bersiwak bagi orang yang berpuasa. Amir bin Rabiah radhiyallahu anhu berkata, saya sering sekali melihat Rasulullah bersiwak dalam keadaan puasa. “(Menurut At-Tirmidzi hadits ini hasan). Ziyad bin Hudair radhiyallahu anhu berkata: Tidaklah aku melihat seseorang yang paling sering bersiwak dalam kondisi puasa kecuali Umar. Akan tetapi dengan siwak kering. Para ahli ilmu tidak mempermasalahkan bersiwak di pagi hari (sebelum matahari tergelincir) apabila siwaknya kering. Imam Ahmad dan Ishaq menganjurkan untuk meninggalkan bersiwak di sore hari (setelah matahari tergelincir). Imam Ahmad berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh bau mulut orang puasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada aroma misik. ” Alasan bau inilah, aku tidak setuju bagi orang yang puasa bersiwak di sore hari. ”

Kesimpulan sekaligus pendapat yang kami (penulis) pilih adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu diperbolehkan bersiwak dalam kondisi puasa baik di pagi hari (sebelum matahari tergelincir) dan siang/sore hari (setelah matahari tergelincir).

Dalam madzhab syafii pun sebenarnya terjadi perbedaan di internal mereka hanya saja mayoritas dari mereka merajihkan pendapat yang mengatakan makruh jika di lakukan setelah matahari tergelincir.

Adapun Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah (ulama senior madzhab syafii) merajihkan pendapat yang tidak memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa walaupun matahari sudah tergelincir.

Beliau rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Mudzdzab:

“Abu Isa (Imam At-Tirmidzi rahimahullah) menyampaikan dalam kitabnya “Al-Jami'” pada bab puasa tentang ucapan Imam Asy-Syafii rahimahullah bahwa beliau (Imam Asy-Syafii) tidak mempermasalahkan bersiwak bagi orang yang berpuasa di pagi hari maupun siang hari, namun penyebutan pendapat Imam Asy-Syafii ini masih asing walaupun secara dalil lebih kuat (yaitu pendalilan kebolehan bersiwak di pagi maupun di siang hari), dan inipun pendapat Imam Al-Muzanni (ulama senior madzhab syafii), juga mayoritas ulama dan inilah pendapat yang terpilih. ”

Imam Taqiyuddin Al-Hishni Asy-Syafii rahimahullah pun mengakui adanya perbedaan di kalangan madzhab syafii dan Imam An-Nawawi merajihkan pendapat yang tidak memakruhkan bersiwak diwaktu pagi maupun siang.

Beliau (Imam Taqiyuddin Al-Hishni rahimahullah) berkata dalam kitabnya Kifayatul Akhyar:

“Apakah Makruh bagi orang yang berpuasa bersiwak pada waktu setelah matahari tergelincir? Ada perbedaan pendapat, yang rajih menurut Imam Ar-Rofi’i dan dalam kitab Ar-Raudhah adalah makruh (…………..) dan dikatakan dalam suatu pendapat, tidak makruh secara mutlak (kapan saja boleh dilakukan baik pagi maupun siang) dan ini juga pendapat 3 Imam [Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad (walaupun yang masyhur, Imam Ahmad memakruhkan jika dilakukan di sore hari)] dan Imam An-Nawawi dalam kitabnya Syarah Al-Muhadzzab merajihkan pendapat ini. ” (Lihat Kitab Kifayatul Akhyar Bab Disunnahkan Bersiwak).

Terdapat pula riwayat bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam dan sahabat bersiwak dalam keadaan puasa secara mutlak, adapun orang yang membedakan antara sebelum dan sesudah matahari tergelincir harus mendatangkan dalil lain yang sharih (jelas/tegas) dan kuat.

Amir bin Rabiah radhiyallahu anhu berkata, saya sering sekali melihat Rasulullah bersiwak dalam keadaan puasa. “(Menurut At-Tirmidzi hadits ini hasan).

Ziyad bin Hudair radhiyallahu anhu berkata: “Tidaklah aku melihat seseorang yang paling sering bersiwak dalam kondisi puasa kecuali Umar. ” Wallahu a’lam.

Menggunakan Sikat Gigi Dan Pasta Gigi Bagi Orang Yang Berpuasa

Masalah ini pernah ditanyakan kepada syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, beliau menjawab: “Boleh, akan tetapi lebih baik dia tidak mempergunakannya karena di dalam pasta gigi itu terdapat kekuatan/pengaruh yang dapat turun ke tenggorokan. Daripada melakukan hal tersebut pada siang hari, lebih baik melakukannya pada malam hari. ” (Lihat Kitab Shahih Fikih Wanita)

Semoga bermanfaat.

 

✍🏽Abul Fata Miftah Murod, Lc; S. Ud

Artikel:

www.inilahfikih.com

@Inilah Fikih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *