HUKUM BACA QURAN UNTUK MAYIT DI KUBURAN

HUKUM BACA QURAN UNTUK MAYIT DI KUBURAN

HUKUM BACA QURAN UNTUK MAYIT DI KUBURAN

Mamah alawi. Mau tanya pak ustad, di kampung kami bila ada yang meninggal orang-orang berganti antara pria dan wanita untuk mengaji atau membaca al-Quran bersama di makam dan berdoa bersama pada Allah agar yang meninggal dikala itu diampuni dosa-dosanya apakah perbuatan kami semua melanggar syariat Islam? Mohon penjelasannya pak ustad. Terimakasih.

Jawaban: Syaikh Abdul Aziz berkata, “Membaca Al Qur’an di sisi kubur adalah di antara amalan yang tidak dituntunkan oleh Islam sehingga tidak boleh kita lakukan. Kita tidak boleh pula shalat di sisi kubur karena Rasulullah tidak pernah melakukan seperti itu. Begitu pula hal tersebut tidak pernah dituntunkan oleh khulafaur rosyidin yaitu Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali. Karena amalan tadi hanyalah dilakukan di masjid dan di rumah sebagaimana sabda Nabi ,

اجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِى بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

“Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian dan jangan jadikan rumah tersebut seperti kubur” (HR. Bukhari no. 432 dan Muslim no. 777).

Hadits ini menunjukkan bahwa kubur bukanlah tempat untuk shalat dan juga bukan tempat untuk membaca Al Qur’an. Amalan yang disebutkan ini merupakan amalan khusus di masjid dan di rumah. Yang hendaknya dilakukan ketika ziarah kubur adalah memberi salam kepada penghuninya dan mendoakan kebaikan pada mereka.
Adapun Nabi setelah penguburan mayit, beliau berhenti di sisi kubur dan berkata,

اسْتَغْفِرُوا لأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ

“Mintalah ampun pada Allah untuk saudara kalian dan mintalah kekokohan dalam menjawab pertanyaan kubur. Karena saat ini ia sedang ditanya” (HR. Abu Daud no. 2758). Beliau sendiri tidak membaca Al Qur’an di sisi kubur dan tidak memerintahkan untuk melakukan amalan seperti ini.

Memang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar -jika riwayat tersebut shahih- bahwa beliau melakukan seperti itu, alasan ini tidak bisa dijadikan pendukung. Karena yang namanya ibadah ditetapkan dari sisi Rasulullah atau dari Al Qur’an. Perkataan sahabat tidak selamanya menjadi pendukung, begitu pula selainnya selain khulafaur rosyidin. Karena Nabi bersabda mengenai khulafaur rosyidin,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Wajib atas kalian berpegang tegus dengan ajaranku dan juga ajaran khulafaur rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah kuat-kuat ajaran tersebut dengan gigi geraham kalian” (HR. Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no. 42).
Ajaran khulafaur rosyidin bisa jadi pegangan selama tidak menyelisihi ajaran Rasulullah . Adapun yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan sahabat lainnya, maka itu tidak selamatnya bisa menjadi pegangan dalam hal ibadah. Karena sekali lagi, ibadah adalah tauqifiyah yaitu mesti dengan petunjuk dalil yang diambil dari Al Qur’an dan ajaran Rasulullah yang shahih. Wallahu a`lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *