HARTAMU HALAL ATAU HARAM?

HARTAMU HALAL ATAU HARAM?

Jauh-jauh hari sebelumnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan kepada umatnya dalam sabdanya:

يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِيْ الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلاَلِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ؟

“Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi peduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram? (HR. al-Bukhori)

Ingatlah bahwa harta adalah bagian dari ujian manusia.

Allah berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. ” (QS. al-Anfal [8]: 28)

Rosululloh shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إَنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِيْ الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat mendapatkan ujian dan ujian umat ini adalah harta.” (HR. at-Tirmidzi)

Ditambah lagi ketamakan terhadap harta merupakan salah satu tabiat manusia, seperti dijelaskan dalam sabda Rosululloh shallallahu alaihi wasallam :

لَوْ كَانَ ِلابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لابْتَغَى ثَالِثًا وَلاَ يَمْلأ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Alloh memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Perlu kita ketahui bersama bahwa usaha yang haram memiliki dampak buruk dan bahaya terhadap pelakunya. Diantaranya adalah:

1. Usaha yang haram mengotori hati dan membuat malas anggota tubuh dalam berbuat ketaatan serta hilangnya barakah rezeki dan umur.

Usaha yang haram adalah kemaksiatan dan perbuatan dosa yang memiliki dampak buruk sangat banyak sekali, di antaranya membuat hati kotor dan gelap.

Ibnul-Qayyim rahimahullah menegaskan: “Di antara dampak buruk kemaksiatan adalah kegelapan yang di dapatkan di hatinya, yang dapat ia rasakan sebagaimana merasakan kegelapan malam yang gelap gulita, sehingga gelapnya kemaksiatan di kalbu seperti kegelapan di matanya. Sebab, ketaatan adalah cahaya dan kemaksiatan adalah kegelapan.”

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menyatakan: “Sesungguhnya kebaikan memberikan cahaya di kalbu dan sinar di wajah, kekuatan di badan, tambahan dalam rezeki serta kecintaan di hati para makhluk. Kejelekan (dosa) memberikan warna hitam di wajah, kegelapan di hati, kelemahan di badan, kekurangan dalam rezeki dan kebencian di hati para makhluk.”

2. Usaha yang haram tentunya akan menghasilkan harta dan makanan yang haram juga, sehingga pelakunya akan tumbuh dari makanan yang haram. Bila demikian, maka neraka lebih pantas baginya, sebagaimana dijelaskan Rosululloh shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau:

إِنَّهُ لاَ يَرْبُوْ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Sesungguhnya tidak berkembang daging yang tumbuh dari makanan yang haram kecuali Neraka lebih pantas baginya.” (HR. at-Tirmidzi, dengan sanad shohih)

3. Usaha yang haram mengakibatkan kemurkaan Alloh serta memasukkan pelakunya kedalam neraka. Hal ini dijelaskan Rosululloh shallallahu alaihi wasallam dalam hadits Abu Umamah al-Harits bahwa Rosululloh shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمِ بِيَمِيْنِهِ فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ وَحَرَمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيْرًا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ وَإِنْ قَضِيْبًا مِنْ أَرَاكٍ

“Siapa yang mengambil hak seorang Muslim dengan sumpahnya, maka Alloh masukkan ke dalam neraka dan mengharamkannya surga. Seorang bertanya kepada beliau: “Walaupun hanya sesuatu yang remeh wahai Rosululloh? Beliau menjawab: “Walaupun hanya sepotong kayu siwak.” (HR. Muslim)

Ini di pertegas dengan sabda beliau:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِالْحَرَامِ

“Tidak akan masuk surga tubuh yang diberi makan dengan yang haram.” (HR. al-Baihaqi, dengan sanad shohih)

4. Usaha yang haram dapat mengakibatkan tidak di terimanya doa pelakunya, karena makanan dan minuman yang di dapatkan dari usaha haram adalah haram dan makanan haram dapat mengakibatkan doa tidak di terima.

Rosululloh shallallahu alaihi wasaallam dalam sabdanya:

ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ؟

“Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut lagi berdebu, ia mengulurkan kedua tangannya ke arah langit sambil berdoa: Ya Robb, Ya Robb, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia kenyang denang makanan yang haram. Maka bagimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya.”?! (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

Rosululloh shallallahu alaihi wasallam memulai hadits ini dengan isyarat bahwa makan barang haram termasuk pencegah dikabulkannya doa. Dipahami darinya bahwa memperbagus makanan (memakan makanan halal) menjadi salah satu sebab dikabulkannya doa, sebagaimana dikatakan oleh Wahab bin Munabbih: “Siapa yang ingin di kabulkan doanya oleh Alloh, hendaklah memperbagus makanannya’. ”

Ketika Sa’d bin Abi Waqash ditanya tentang sebab dikabulkan doa para sahabat Rosululloh shallallahu alaihi wasallam; beliau berkata, ‘Aku tidak mengangkat sesuap makanan pun ke mulutku kecuali aku mengetahui darimana datangnya dan darimana ia keluar.”

Semoga Allah selalu membimbing kita untuk membedakan mana yang halal dan mana yang haram.

PENGERTIAN HARTA HARAM

Yang dimaksud dengan harta haram adalah setiap harta yang didapatkan dari jalan yang dilarang syariat.

FAKTOR PENYEBAB AKAD MENJADI TIDAK SAH DAN HASILNYA MERUPAKAN HARTA HARAM

Ada 3 faktor yang menyebabkan sebuah akad tidak sah sehingga hasilnya menjadi harta haram, yaitu: riba, gharar dan zhulm.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sebuah akad yang tidak mengandung unsur gharar, riba dan zhulm tidak mungkin diharamkan syari’at. ”

Ibnu Utsaimin rahimahullah juga mengatakan, ”Faktor penyebab muamalatkontemporer diharamkan adalah riba, zhulm dan gharar. ”

Rasulullah shallallahu alaihi wasaallam:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa: 29)

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli al-hashah dan jual beli gharar”

Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas pengertian faktor-faktor penyebab muamalat kontemporer menjadi diharamkan.

1. Riba

Secara bahasa riba artinya bertambah, sedangkan menurut istilah riba adalah menambahkan beban kepada pihak yang berhutang, atau menambahkan takaran saat melakukan tukar-menukar 6 komoditi (yaitu ; emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam) dengan jenis yang sama, atau tukar-menukar emas dengan perak dan makanan dengan makanan dengan cara tidak tunai.

Riba terbagi menjadi 2:

1. Riba Dain : Riba yang objeknya adalah penambahan hutang

2. Riba Ba’i : Riba yang objeknya adalah akad jual-beli.

2. Gharar

Secara bahasa gharar berarti resiko, tipuan, dan menjatuhkan diri atau harta ke jurang kebinasaan. Secara istilah gharar adalah jual-beli yang tidak jelas kesudahannya. Sebagian Ulama mendefinisikannya dengan jual-beli yang konsekuensinya antara ada dan tidak.

Jenis gharar yang diharamkam:

a. Nisbah (prosentase) gharar dalam akad itu besar. Jika nisbah (prosentase) gharar yang ada dalam sebuah akad sangat besar maka akad ini diharamkan. Al-Baji berkata, ”Gharar dalam jumlah besar, yaitu rasionya dalam akad terlalu besar sehingga orang mengatakan bahwa jual-beli ini adalah jual-beli gharar.”

b. Keberadaan gharar dalam akad itu mendasar.

Jika keberadaan gharar dalam akad merupakan pokok dari akad tersebut, maka akad ini menjadi haram. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, ”Gharar yang terdapat pada akad yang statusnya sebagai pengikut dibolehkan. seperti: menjual kambing yang sedang menyusui (menjual susu dalam kantung susu hewan mengandung unsur gharar, akan tetapi dibolehkan karena statusnya hanyalah sebagai pengikut dalam transaksi), hewan ternak bunting (menjual janin di dalam perut induknya mengandung gharar, akan tetapi dibolehkan karena statusnya hanya sebagai pengikut dalam transaksi) dan tidak boleh bila dijual terpisah (seperti menjual janin hewan ternak saja yang masih dalam perut induknya)”

c. Akad yang mengandung gharar itu bukan termasuk akad yang dibutuhkan orang banyak.

Dibolehkan melakukan akad yang mengandung gharar jika akad tersebut dibutuhkan orang banyak, sedangkan jika sebaliknya maka akad menjadi haram. Imam Nawawi mengatakan, “Bila akad yang mengandung gharar sangat penting, bila dilarang akan sangat menyusahkan kehidupan manusia, maka akadnya dibolehkan”.

d. Gharar yang terjadi pada akad jual-beli.

Boleh melakukan akad yang mengandung gharar jika akad tersebut terjadi pada hibah/wasiat, sedangkan untuk akad jual-beli hukumnya dilarang.

3. Zhalim

Zhulm berasal dari bahasa Arab yang berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan dengan berbuat zhalim.

Menurut istilah zhalim berarti mengerjakan larangan serta meninggalkan perintah Allah. Dengan pengertian ini, maka setiap perbuatan yang melampaui ketentuan syariat adalah perbuatan zhalim yang diharamkan, baik dengan cara menambah atau mengurangi.

_____________

Sumber:

1. Meringkas dari sebuah naskah khutbah jumat

2. Harta Haram Muamalat Kontemporer Karya DR. Erwandi Tarmidzi, MA

3. Situs Islam

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *