Niat Penunjang Nilai Amal Perbuatan [Syarah Hadits]

Niat Penunjang Nilai Amal Perbuatan [Syarah Hadits]

 عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضي الله عنه – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ: ((إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ – وَفِي رِوَايَةٍ: بِالنِّيَّةِ – وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ.))

Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niat – dalam sebuah riwayat: niat (dengan dipendekkan lafaz niat) -, dan seseorang hanya memperoleh sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya kepada itu.”

Perawi hadits:

Beliau adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luai, Abu Hafsh al-Adawi. Ia dijuluki al-Faruq. Khalifah rosyidun kedua setelah abu bakar ash-Shiddiq.

Sebab Wurud Hadits

Hadits ini merupakan penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang berhijrah dari mekkah ke Madinah bukan karena mencari keutamaan hijrah tetapi karena mengincar seorang wanita yang ingin dinikahinya.

Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id berkata: “Mereka meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang berhijrah dari Mekkah menuju Madinah, dengan hijrahnya itu dia tidak menghendaki keutamaan hijrah. Dia hanya menghendaki agar dapat menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais.”[1]

 

Makna Kata:

(إنما الأعمال بالنيات): kata Innama berfaidah pembatasan. Yaitu pembatasaan amalan dengan niat, maka bermakna; penetapan hukum perbuatan dengan niat yang muncul dalam hati. Sebaliknya, perbuatan manusia tidak berlaku ketika tidak didasari dengan niat.

(النية): niat secara bahasa berarti maksud. Al-Baidhowi berkata: niat merupakan ungkapan yang muncul dalam hati untuk bermaksud meraih apa yang diinginkan, baik meraih manfaat atau menolak madhorot. Niat secara syariat adalah tekad beribadah untuk mendekatkan diri kepada Alloh swt.[2]

(فمن كانت هجرته ….): ini adalah contoh yang menjelaskan kaidah Islam sebelumnya.

 

Penjelasan Hadis:

Hadis ini merupakan dasar kaidah yang agung dalam islam, yaitu; standar kebenaran sebuah perbuatan dan perkataan, dari segi diterima atau tidak, dari segi banyaknya pahala atau sedikitnya.

Nabi Muhammad saw memberitahukan bahwa poros perbuatan itu ada pada niatannya. Apabila niatnya baik, karena untuk meraih ridho Alloh swt, maka perbuatannya diterima. Sebaliknya, niatnya bukan karena itu, maka perbuatannya tertolak. Alloh swt tidak membutuhkan sekutu apapun itu.

Nabi Muhammad saw mencontohkan kaidah yang agung ini pada perbuatan hijrah. Siapa yang meninggalkan Negara syirik karena ingin meraih pahala dari Alloh swt dan mengikuti perintah Nabi saw, maka hijrahnya di jalan Alloh, dan Alloh memberi pahala kepadanya. Adapun orang yang hijrahnya karena tujuan duniawi, maka tidak ada pahala baginya. Apabila perbuatannya maksiat, maka ia mendapat hukuman.

Menurut ulama fiqih, niat memiliki dua fungsi:

  1. Tamyiiz (pembeda), hal ini ada dua macam:
  2. Pembeda antara ibadah yang satu dengan yang lainnya. Misalnya antara shalat fardhu dengan shalat sunat, shalat Zhuhur dengan shalat Ashar, puasa wajib dengan puasa sunnah, dst.
  3. Pembeda antara kebiasaan dengan ibadah. Misalnya mandi karena hendak mendinginkan badan dengan mandi karena janabat, menahan diri dari makan untuk kesembuhan dengan menahan diri karena puasa.
  4. Qasd, maksud dan tujuan (meniatkan suatu amal “karena apa?” atau “karena siapa?”). secara syariat, ikhlash dalam perbuatan untuk Alloh swt.

 

Faidah Hadis

Pertama, Hadits ini berisikan bahwa poros amal dalam Islam yakni niat dan ikhlas. Amal harus ada niat, sedangkan niat harus ada keikhlasan agar dia diterima.

Imam Ahmad dan Imam Asy Syafi’i Rahimahumallah berkata: ‘Hadits ini mencakup sepertiga ilmu’, hal itu dikatakan juga oleh Al Baihaqi dan lainnya. Sebabnya adalah perbuatan hamba terdiri atas hati, lisan, dan anggota badannya. Dan niat adalah salah satu bagian dari tiga itu.[3]

Imam Abdurrahman bin Al Mahdi berkata: “Hendaknya bagi setiap orang yang menyusun kitab agar mengawali kitabnya dengan hadits ini, sebagai peringatan bagi penuntut ilmu untuk meluruskan niatnya.”[4]

Kedua, hadits ini pula yang dijadikan oleh para ulama sebagai parameter untuk membedakan (tamyiz) status hukum amal seseorang; antara adat dan ibadah, dan antara ibadah yang satu dengan yang lainnya.

Hadits ini telah melahirkan sebuah kaidah fiqih yang sangat terkenal, dan Imam As Suyuthi telah memasukkannya dalam kaidah pertama dalam kitab Al Asybah wan Nazhair, yakni:

اَلْأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا

“Urusan/perkara tergantung maksud-maksudnya.”[5]

Ketiga, kewajiban memperhatikan perbuatan hati, dan selalu mengawasinya.

Keempat, hadits ini juga menegaskan betapa pentingnya ikhlash dalam niat. Sebab keikhlasan merupakan syarat diterimanya amal shalih sebagaimana yang telah diketahui. Bahkan amal yang tidak dilaksanakan dengan hati yang ikhlas, baik karena ingin dipuji, ingin ketenaran, ingin harta dunia, dan semisalnya, akan membuat pelakunya celaka.

—————-

Sumber dari kitab Taisirul Alam fi syarh umdah alahkam

[1]Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Hal. 27. Maktabah Al Misykah. Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 1/10. Darul Fikr.

[2]Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, Taisir al-Allam: Syarh Umdah al-Ahkam (Riyadh: Dar al-Maiman, 2005), 25.

[3]Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Hal. 24

[4]Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Hal. 25

[5]Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 8. Mawqi’ Ruh Al Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *