FIKIH WAKAF

FIKIH WAKAF

Pengertian Wakaf:

Wakaf secara bahasa artinya adalah al habsu yaitu menahan, al man’u yaitu mencegah, dan as-sukun artinya diam dan berhenti.

Wakaf secara istilah adalah menahan barang yang mungkin diambil manfaatnya, dengan keberadaan barang tersebut tetap tidak rusak atau hilang, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Alloh. Misal: seseorang mewakafkan tanah untuk dimanfaatkan di atasnya sebagai masjid atau sekolah.

Wakaf juga maknanya adalah menahan pokok harta dan membelanjakan hasilnya untuk kebaikan. Misal: seseorang mewakafkan rumah, lalu disewakan dan hasil sewanya untuk fakir miskin.
Dalam madzhab Syafi’i bahwa dalam status wakaf, pihak wakif (pewakaf) harus memutus harta itu dan diserahkan kepada nazhir atau pengelola wakaf. Syarat harta wakaf yaitu harus kekal materinya, tidak mudah rusak atau musnah, serta dapat diambil manfaatnya secara berkelanjutan.

Hukum Wakaf:

Wakaf hukumnya sunnah, termasuk amal ibadah yang dianjurkan.
Alloh ta’ala berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran : 92)

Sesungguhnya wakaf merupakan salah satu kebajikan dan infak yang terbaik.
Sahabat Abu Thalhah saat mendengar ayat tersebut bergegas mewakafkan kebun “Bairuha”, kebun kurma miliknya yang paling ia sukai. Nabi pun sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Abu Thalhah, hingga beliau bersabda “Bagus sekali. Itu adalah investasi yang menguntungkan (di akhirat)” (HR al-Bukhari)

Dalam hadits disebutkan, Umar Radhiyallahu ‘anhu telah memperoleh bagian tanah di Khaibar, lalu ia datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata,”Aku telah mendapatkan bagian tanah, yang saya tidak memperoleh harta selain ini yang aku nilai paling berharga bagiku. Maka bagaimana engkau, wahai Nabi? Engkau memerintahkan aku dengan sebidang tanah ini?” Lalu Beliau menjawab,”Jika engkau menghendaki, engkau wakafkan tanah itu (engkau tahan tanahnya) dan engkau shadaqahkan hasilnya,” lalu Umar menyedekahkan hasilnya.

Sesungguhnya tanah ini tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwaris, tetapi diinfakkan hasilnya untuk fuqara, kerabat, untuk memerdekakan budak, untuk kepentingan di jalan Allah, untuk menjamu tamu dan untuk ibnu sabil. Orang yang mengurusinya, tidak mengapa apabila dia makan sebagian hasilnya menurut yang makruf, atau memberi makan temannya tanpa ingin menimbunnya. [HR Bukhari no. 2565, Muslim 3085]

Sulaiman Rasjid mengatakan: inilah permulaan wakaf dalam Islam. Imam Syafi’i mengatakan: “Setelah itu 80 sahabat di Madinah terus mengorbankan harta mereka untuk dijadikan wakaf.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” [HR Muslim 3084]

As-Son’ani mengatakan: para ulama menafsirkan sodaqoh jariyah dengan wakaf.
Dari dalil-dalil di atas bisa disimpulkan bahwa wakaf lebih utama dari sedekah biasa, karena wakaf manfaatnya lebih panjang. Selama barang yang diwakafkan masih ada dan digunakan untuk kebaikan maka manfaatnya akan terus dirasakan oleh pewakifnya.

Rukun dan Syarat Wakaf:

1. Wakif (orang yang berwakaf). Syaratnya: orang yang sah bertindak terhadap hartanya, berhak berbuat kebaikan, sekalipun bukan Islam, berakal, dewasa dan atas kehendak sendiri bukan paksaan.
2. Ainul Mal (barang yang diwakafkan) syaratnya; barangnya bisa dimanfaatkan dan kekal dzatnya, seperti tanah, bangunan, mushaf, sumur dll. Dan barangnya milik sendiri serta barang yang diwakafkan diperuntukkan untuk jalan kebaikan bukan untuk perkara yang haram.
3. Penerima wakaf, baik kepada orang tertentu, yaitu syaratnya orang yang berhak memiliki yaitu selain budak atau janin yang masih dalam perut. Atau wakafnya kepada umum seperti masjid untuk umum, jalan umum, sekolah untuk pelajar dll. Dan penerima wakaf wajib mengikuti syarat pewakaf selama tidak menyelisishi syariat.
4. Akad, baik secara lisan atau tulisan atau dengan sesuatu yang dipahami sebagai bentuk penyerahan wakaf. Wakaf adalah akad yang mengikat, tidak boleh membatalkan dan menjualnya. Kecuali bila manfaat harta wakaf berhenti atau sudah tidak berguna lagi, maka sebagian ulama membolehkan menjualnya kemudian hasinya bisa dibelikan sesuatu yang semisalnya yang bermanfaat.

Referensi :
1. At-Tadzhib fii Adillat Matan Ghoyah wa Taqrib, Dr. Mustofa Dieb Al-Bugho
2. Fiqh Islami, H. Sulaiman Rasjid
Subulussalam, Muhammad Bin Ismail As-Son’ani
3. Fikih Muyassar, Tim Ulama Fikih
Mausu’ah Fiqhiyyah

Penulis: Yudi Salman, Lc

Editor: Abul Fata Miftah, Lc

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *