CARA MENYUCIKAN BEBERAPA BENDA YANG TERKENA NAJIS (2)

CARA MENYUCIKAN BEBERAPA BENDA YANG TERKENA NAJIS (2)

Oleh: Abu Mujahidah, Lc

 

Pada pembahasan yang lalu kita telah membahas tentang tata cara membersihkan dan menyucikan empat benda yang terkena najis dan kotoran yaitu Cara Menyucikan Tanah, mentega dan sejenisnya, kulit bangkai, dan menyucikan cermin dan sejenisnya. Diantara benda selanjutnya yang harus di sucikan jika terdapat najis yaitu;

Sandal.

Cara menyucikan sandal dan sepatu yang terkena najis yaitu dengan menggosokkannya ke tanah sampai bekas najis yang menempel padanya hilang. hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud  dari Abu Huroiroh  bahwasanya Rasulullah  bersabda,

إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلَيْهِ الأَذَى فَإِنَّ التُّرَابَ لَهُ طَهُورٌ

“Jika salah seorang di antara kalian menginjak kotoran dengan kedua sandalnya, maka tanah yang dipijak dapat menyucikannya.”

Berkaitan dengan hal ini pula, Imam Ahmad  pernah meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri . Ia berkata, Rasulullah  bersabda,

Yang artinya, “Jika salah seorang di antara kalian pergi ke masjid, hendaknya ia membalikkan kedua sandalnya dan memperhatikan bagian telapaknya. Jika terdapat kotoran, hendaknya menggosokkannya ke tanah, kemudian ia dibolehkan memakainya untuk shalat.”

Sepatu dan sandal merupakan benda yang sering kali terkena najis. Oleh karena itu, untuk menyucikannya cukup dihilangkan pada benda kasar, sebagaimana halnya beristinja’ dengan batu atau benda padat lainnya. Bahkan cara untuk menyucikan sandal bisa dibilang lebih mudah dari pada beristinja’. Karena beristinja’ membutuhkan dua atau tiga batu, sementara sandal cukup dengan menggosokkannya ke benda padat.

Diantara hal-hal yang sering kita alami yang kadang membuat kita was-was dalam beramal karena dikawatirkan terdapat najis; yaitu;

Yang pertama, Jika tali yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian terkena najis, kemudian tali tersebut kering disebabkan sinar matahari atau tiupan angin, maka tali ini dapat digunakan untuk menjemur pakaian yang suci sampai kering.

Kemudian yang kedua, Jika kita ditimpa oleh air yang tidak diketahui, apakah air itu suci atau air kencing, maka kita tidak perlu memastikan benda yang jatuh mengenainya. Tapi, jika kita tetap ingin mengetahui air yang mengenai dengan bertanya kepada seseorang, maka orang yang ditanya tidak wajib memberi jawaban, meskipun kita tahu bahwa benda yang jatuh dan mengenainya sebenarnya benda najis. Di samping itu, orang yang bertanya tidak wajib mencucinya.

Yang ketiga, yaitu Jika kaki atau ujung pakaian terkena suatu benda yang basah pada waktu malam hari, tanpa mengetahui apa benda basah itu, maka tidak diwajibkan baginya untuk mencari tahu benda tersebut, baik dengan cara mencium ataupun dengan cara yang lain. hal ini sebagaimana sebuah riwayat yang menyebutkan, bahwa suatu hari Umar  melewati sebuah tempat. Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari pancuran air dan mengenai Umar . Salah seorang sahabat yang ikut dalam perjalanan bersama Umar  bertanya, “Wahai pemilik pancuran, apakah airmu suci atau najis?” Mendengar hal itu, Umar  pun berkata, “Wahai pemilik pancuran, kamu tidak perlu menjawab pertanyaan sahabat ini.” Umar  tidak menghiraukan benda yang jatuh kepada dirinya, dan beliau pun meneruskan perjalanannya.

Kemudian yang keempat, yaitu Tidak wajib mencuci sesuatu yang terkena tanah yang ada di jalanan. Berkaitan dengan hal ini, Kumail bin Ziyad berkata, “Saya melihat Ali  berjalan di tengah-tengah lumpur setelah hujan turun. Namun, beliau terus masuk ke dalam masjid, lalu mengerjakan shalat tanpa membasuh kedua kakinya terlebih dahulu.”

Yang kelima, yaitu Jika seseorang telah mengerjakan shalat, tiba-tiba terlihat najis pada pakaian atau bagian badannya yang sebelumnya tidak diketahui, atau mengetahuinya tapi lupa membersihkannya, atau pun tidak lupa tapi tidak sanggup menanggalkannya, maka shalatnya tetap sah dan ia tidak perlu mengulangi shalatnya. Hal ini sebagaimana firman Alloh  dalam Al-Qur’an surat al-Ahzab ayat yang ke 5, yang artinya, “Dan tidak ada dosa atas kalian terhadap apa yang kalian khilaf padanya,” Inilah pendapat yang dikemukakan oleh mayoritas kalangan sahabat dan tabi’in.

Kemudian yang keenam, yaitu Seseorang yang tidak mengetahui letak najis di pakaiannya, maka wajib mencuci semua pakaiannya. Sebab, tidak ada cara lain untuk menghilangkan najis tersebut melainkan dengan cara mencuci keseluruhan pakaian itu. Hal ini sesuai dengan kaidah yang menyatakan, “Suatu yang tidak bisa sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain, maka perkara yang lain tersebut menjadi wajib.”

Dan yang ketujuh, yaitu Jika pakaian milik seseorang bercampur antara yang suci dengan yang terkena najis sehingga ragu saat memilih, mana yang suci dan mana yang terkena najis, maka diharuskan memilih pakaian yang dianggap suci sesuai kemantapannya. Namun, hanya boleh memakainya untuk sekali shalat saja, baik pakaian yang ada itu sedikit ataupun banyak. Karena masalah ini sama halnya dengan menentukan arah kiblat.

Artikel:

www.inilahfikih.com

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *