BERZIKIR DENGAN MENGANGGUK-ANGGUKKAN KEPALA DAN BERSUARA KERAS

BERDZIKIR DENGAN MENGANGGUK-ANGGUKKAN KEPALA DAN BERSUARA KERAS

Assalamualaikum pak ustad, apakah menggerakan anggota badan atau mengangguk-anggukkan kepala ketika dzikir itu ada tuntunannya. Kemudian bagaimana hukum dzikir setelah shalat atau lainnya dengan suara keras? Tolong penjelasannya

Jawaban: Waalaikumussalamu warahmatullahi wabarakatuh
Tidak diragukan bahwa membaca istigfar, sholawat, tahmid, takbir, tasbih, tahlil dan dzikir-dzikir lainnya adalah merupakan ibadah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah . Akan tetapi segala bentuk ibadah dan tata caranya sudah ada panduan dari Rasulullah . Rasulullah banyak berdzikir dan mengajarkan pula bacaan-bacaannya, namun tidak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi berdzikir dengan menggoyang-goyangkan badan dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sehingga cara zikir seperti ini adalah perkara yang dibuat-buat dalam agama, dan hendaknya cara seperti ini tidak dilakukan. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (yaitu urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari)

Rasulullah juga bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim)

Adapun terkait masalah berdzikir dengan mengeraskan suara, Imam Syafi’i berpendapat bahwa asal dzikir adalah dengan suara lirih atau tidak dikeraskan, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah sebagai berikut;

Pertama: Firman Allah ;

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya” (QS. Al-Isro’: 110).

Kedua; Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari , ia berkata,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ »

“Kami pernah bersama Rasulullah . Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama-Nya dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704). Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidaklah suka dengan suara keras saat dzikir dan do’a.

Imam Ath-Thobari berkata,

فِيهِ كَرَاهِيَة رَفْع الصَّوْت بِالدُّعَاءِ وَالذِّكْر ، وَبِهِ قَالَ عَامَّة السَّلَف مِنْ الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ اِنْتَهَى

“Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya mengeraskan suara pada do’a dan dzikir. Demikianlah yang dikatakan para salaf yaitu para sahabat dan tabi’in.” (Lihat kita Fathul Bari, 6: 135)

Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm berkata, “Aku menganggap bahwa Rasulullah mengeraskan sedikit suaranya saat dzikir selesai shalat hanya untuk mengajari para sahabat beliau.” Wallahu a`lam.

Dijawab oleh ustadz Abul Fata Miftah, Lc; S. Ud (Pengasuh www.inilahfikih.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *