BERPUASA DALAM KEADAAN SAFAR

BERPUASA DALAM KEADAAN SAFAR

Seseorang terkadang harus bepergian atau safar dalam kondisi puasa, maka dalam kondisi ini mana yang lebih afdhol berpuasa atau tidak, mari kita simak uraian dari ulama besar dalam madzhab syafii yaitu imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah.

al-Imam an-Nawawi asy-Syafii rahimahullah berkata: Para ulama berbeda pendapat tentang puasa dalam keadaan safar(bepergian), sebagian ulama Ahlu Dzohir berpendapat: Tidak sah puasa ramadhan dalam keadaan safar, jika ia berpuasa (dalam keadaan safar) maka tidak dianggap dan wajib qodho` berdasarkan hadits” tidak termasuk perbuatan kebajikan ketika puasa dalam keadaan safar” dan didalam hadits lain “mereka(yang berpuasa dalam keadaan safar) melakukan kemaksiatan”.

Sedangkan menurut mayoritas ulama dan semua ahlu fatwa: diperbolehkan puasa dalam keadaan safar dan puasanya dianggap serta mendapatkan pahala.

Mana yang lebih afdhol, berpuasa atau berbuka (dalam keadaan safar)?

al-imam an-Nawawi asy-Syafii rahimahullah melanjutkan perkataannya: mereka (para ulama) berbeda pendapat, mana yang lebih utama, puasa atau berbuka ketika dalam keadaan safar: Imam Malik Rahimahullah, Abu hanifah Rahimahullah, asy Syafii Rahimahullah dan mayoritas berpendapat: berpuasa lebih utama bagi orang yang mampu, tanpa ada kesulitan yang tampak dan tidak membahayakan, namun jika membahayakan dirinya maka berbuka lebih utama baginya. Mereka (ulama) berargumen dengan puasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan Abdullah Ibn Rowahah Radhiyallahu Anhu dan lainnya, dan dengan hadits hadits lain, dan hal itu (dengan berpuasa) membebaskan tanggungan seketika itu.

Adapun menurut Said Ibn Musayyab Rahimahullah, al-Auza`i Rahimahullah, Ahmad Rahimahullah, Ishaq Rahimahullah dan lainnya: berbuka lebih utama dari berpuas a(dalam keadaan safar), dan pendapat ini dinisbatkan oleh sebagian pendukung madzahab syafii kepada pendapat asy-Syafii Rahimahullah. Penisbatan ini ghorib.

Referensi Utama:

Shahih Muslim Bi Syarh an-Nawawi, Pustaka al-Iman Hal. 219

✍Abul Fata Miftah Murod, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *