Berpindah Dari Tempat Melaksanakan Shalat Wajib Berjamaah Menuju Tempat Lain Untuk Melaksanakan Shalat Sunnah Ba’diyah

Berpindah Dari Tempat Melaksanakan Shalat Wajib Berjamaah Menuju Tempat Lain Untuk Melaksanakan Shalat Sunnah Ba’diyah

Setelah menunaikan shalat wajib berjamaah biasanya para jamaah melanjutkan dzikir hingga selesai, kemudian mereka melanjutkan shalat sunnah ba’diyah.

Kebanyakan dari mereka ketika hendak melaksanakan shalat sunnah ba’diyah berpindah atau bergesar dari tempat dimana ia berdiri menunaikan shalat wajib menuju tempat lain yang tidak jauh darinya untuk menunaikan shalat sunnah ba’diyah. Mengapa demikian? Banyak dari kita yang bertanya apakah berpindah atau bergeser seperti uraian diatas terdapat anjuran atau terdapat perintahnya? Berikut uraiannya:

ﻭﻋﻦ ﺍﻟﺴﺎﺋﺐ ﺑﻦ ﻳﺰﻳﺪ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﺃﻥ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﻟﻪ : ﺇﺫﺍ ﺻﻠﻴﺖ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﻼ ﺗﺼﻠﻬﺎ ﺑﺼﻼﺓ ﺣﺘﻰ ﺗﺘﻜﻠﻢ ﺃﻭ ﺗﺨﺮﺝ، ﻓﺈﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﺑﺬﻟﻚ )) ﺃﻥ ﻻ ﻧﺼﻞ ﺻﻼﺓ ﺑﺼﻼﺓ ﺣﺘﻰ ﻧﺘﻜﻠﻢ ﺃﻭ ﻧﺨﺮﺝ ))

Dari Saib bin Yazid radhiyallahu anhu bahwa Muawiyah radhiyallahu anhu berkata kepadanya: Apabila kamu shalat jum’at janganlah kamu sambung dengan shalat (berikutnya) hingga kamu bicara atau keluar, karena Rasulullah memerintahkan demikian, yaitu (( agar kami tidak menyambung shalat dengan shalat lainnya hingga kami berbincang-bincang atau keluar)). [HR. Muslim]

Hadits ini dijadikan dalil para ulama bahwa pelaksanaan shalat sunnah rowatib qabliyah dan sunnah ba’diyah dianjurkan untuk berpindah tempat dari tempat pelaksanaan shalat wajib, dan tentunya yang lebih afdhal berpindah dari masjid menuju rumahnya.

Tujuannya adalah untuk memperbanyak tempat sujud dan juga membedakan antara shalat wajib dan shalat sunnah.

Pemisahan antara shalat wajib dengan shalat sunnah rawatib (qabliyah dan ba’diyah) bisa dilakukan dengan berbincang-bincang, namun dengan berpindah lebih afdhal.

Inilah uraian singkat tentang anjuran berpindah dari tempat ia berdiri shalat wajib berjamaah menuju tempat lain untuk melaksanakan shalat ba’diyah. Semoga Bermanfaat

Referensi Utama:

1. Kitab Subulus Salam karya Imam Ash-Shan’ani Al-Yamani

2. Kitab Syarah Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi Asy-Syafii

Oleh: Abul Fata Miftah Murod, S. Ud, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *