BERMAKMUM DI BELAKANG IMAM YANG TIDAK FASIH BACAANNYA

BERMAKMUM DI BELAKANG IMAM YANG TIDAK FASIH BACAANNYA

Dari Endang Nuryana. Gimana hukumnya ngikuti imam yang bacaan al-Fatihahnya tidak baik?

Jawaban:

Pertama: Shalat berjama’ah di masjid hukumnya wajib bagi setiap laki-laki muslim. Tidak boleh meninggalkannya kecuali karena udzur syar’i.

Kedua: Jika seandainya bacaan imam yang salah itu tidak merubah makna, misalnya ketika ia membaca “Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin” dibaca dengan “alhamdulillahi rabbal ‘aalamiin”, yang harusnya kasrah “Rabbil ‘Alamiin” namun dibaca Rabbal ‘Aalamiin atau dibaca marfu’ “Rabbul ‘Aalamiin” maka masih boleh shalat di belakangnya, akan tetapi lebih baik shalat di belakang seseorang yang tidak salah bacaannya.

Ketiga: Wajib mengajari imam dan mengingatkannya akan kesalahan-kesalahannya ini, sebab bacaan al-Fatihah merupakan salah satu dari rukun-rukun shalat. Jika ia mau diajari dan bacaannya menjadi baik maka alhamdulillah, dan jika tidak mau maka hendaknya menyampaikam pada orang-orang yang bertanggung jawab di masjid itu agar imam itu diberhentikan menjadi imam tetap dan diganti dengan seseorang yang baik bacaannya.

Ulama Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hukum shalat di belakang seseorang yang tidak baik bacaannya, apakah yang afdhal shalat shalat sendiri atau shalat di belakangnya? Mereka menjawab: “Jika engkau hendak shalat, maka engkau harus memilih shalat di belakang imam yang baik bacaannya. Jika engkau mengetahui bacaan imamnya tidak baik, maksudnya ia salah dalam membaca surah al-Fatihah, dimana kesalahan itu merubah makna, misalnya ketika membaca “iyyakana’budu” dibaca dengan mengkasrahkan huruf kaf menjadi “iyyakina’budu dan “an’amta” dibaca dengan memadhmumkan atau mengkasrahkannya huruf ta` menjadi “an’amtu” atau “an’amti” maka tidak boleh shalat di belakangnya. Maka wajib untuk mentanbih atau membenarkan bacaan imam. Jika ia mau merubahnya maka alhamdulillah, jika tidak maka hendaknya menginformasikan kepada seseorang yang memiliki kekuasaan untuk menggantinya dengan imam yang benar. (Lihat Fatwa Lajnah Daimah: juz  halaman 348

Syaikh Muhammad Ibn Shalih  berkata: “Jika kesalahannya itu merubah makna dalam surah al-Fatihah atau merubah bacaan al-Fatihah itu maka tidak boleh shalat di belakang orang tersebut. Wajib bagi jama’ah masjid itu untuk menginformasikan perkara ini pada orang-orang yang bertanggung jawab agar imam ini dibenarkan bacaannya atau diganti. Adapun perkara ia menjadi imam kaum muslimin pada rukun teragung dari rukun-rukun islam setelah syahadatain sedang ia tidak baik bacaannya pada perkara yang wajib baginya memperbaiki bacaan, maka tidak boleh ia menjadi imam. Siapa yang menjadikan ia sebagai imam, maka ia telah berdosa, berdosa pada hak-hak Allah. Karena ia menyerahkan kepemimpinan pada orang yang bukan ahlinya. Dan ia juga berdosa pada hak-hak jama’ah yang shalat di belakangnya. Entah itu karena ia telah membuat resah para jama’ah saat shalat atau membuat mereka resah karena ingin mencari masjid yang lebih jauh darinya sehingga memberatkan mereka.” (Lihat Fatwa Nur ‘Ala Darb: juz 15 halaman 182)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Adapun tindakan kalian menjauhi masjid maka saya tidak memandang itu sebagai kebenaran kecuali imamnya salah hingga merubah makna, atau karena ia adalah seorang yang fasiq yang melakukan salah satu dosa besar. (Lihat Al-Muntaqa min fatawa al-Fauzan: juz 29 hlaman 80). Wallahu a`lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *