ANJURAN BERBUAT BAIK KEPADA ANAK YATIM

ANJURAN BERBUAT BAIK KEPADA ANAK YATIM

Anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal wafat oleh ayahnya sebelum anak itu mencapai usia baligh. Islam sangat menganjurkan berbuat baik kepada anak yatim. Alloh berfirman memuji al-Abror (orang-orang yang berbakti kepada Alloh), karena sifat-sifat mereka yanng utama. Salah satunya adalah memberi makan kepada anak yatim. Alloh berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (QS al-Insâan[76]: 8]

Sungguh mulia keutamaan dan pahala orang yang berbuat baik kepada anak yatim. Orang yang berbuat baik dan menyantuni anak yatim tatkala di dunia kelak akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rosululloh SAW.

Rosululloh saw bersabda:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim kedudukannya)di surga seperti ini”, kemudian beliau saw mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau saw, serta agak merenggangkan keduanya. (HR al-Bukhori)

Di antara bentuk berbuat baik kepada anak yatim yaitu: mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah makan dan minum, pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar.

Berbuat baik dan meyantuni anak yatim boleh menggunakan harta miliknya sendiri atau harta orang lain yang memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengurus anak yatim.

Kewajiban berbuat baik kepada anak yatim berlaku umum bagi setiap kaum muslimin sesuai dengan kadar kemampuan. Namun, yang lebih utama, orang yang meyantuni anak yatim adalah orang yang memiliki hubungan keluarga dengan anak yatim tersebut, dengan memenuhi kebutuhannya dan mendidiknya serta mengasuhnya hingga ia tumbuh dewasa menjadi pribadi yang sholih dan mandiri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan bagi orang yang mengemban amanah untuk mengurus anak yatim adalah:

1. Adanya niat yang ikhlas dan tekad yang kuat serta lurus dari pemelihara yatim tersebut untuk mendidik mereka.
2. Memiliki kemampuan untuk mengarahkan dan mendidik anak yatim dengan pendidikan yang islami.
3. Memiliki jiwa tanggung jawab dan memahami dengan baik tentang problematika anak yatim serta karakter mereka.

Anak yatim adalah kaum yang lemah yang sangat membutuhkan bantuan dan kasih sayang. Maka selayaknya ada dari kalangan kaum muslimin yang bahu membahu untuk mengurus anak yatim dengan tidak berbuat zholim dan semena-mena terhadap mereka. Berbuat zholim kepada anak yatim sangat dilarang di dalam Islam.

Alloh berfirman:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (QS. Adh-Dhuha[93]:9]
Perbuatan sewenang-wenang kepada anak yatim menunjukkan pelakunya tidak memiliki iman atau keimanan terhadap hari pembalasan itu lemah.

Alloh berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu orang)yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Maa’un[107]: 1-3)

Orang-orang yang beriman kepada Alloh senantiasa berbuat baik kepada anak yatim dan memberi makan orang miskin. Walaupun dia mengetahui bahwa anak yatim dan orang miskin tidak mampu membalas kebaikannya, namun dia meyakini bahwa Rabb, Penguasa anak yatim dan orang miskin, Maha Kuasa dan Pemurah memberikan balasannya pada hari akhirat kelak.

Berbuat zholim kepada mereka merupakan dosa besar yang diancam dengan siksa neraka. Termasuk kezholiman terhadap anak yatim adalah memakan harta mereka.

Alloh berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zholim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala di neraka.” (QS. An-Nisa[4]:10]

Orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim pada hari kiamat akan digiring dengan nyala api keluar dari mulutnya, telingannya, hidungnya, dan matanya. Semua orang yang melihatnya akan mengenalnya bahwa dia adalah pemakan harta anak yatim. Oleh karena itu, tidak aneh jika memakan harta anak yatim dimasukkan kedalam tujuh dosa besar yang bisa membuat binasa.

Rosululloh saw bersabda:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

“Jauhilah tujuh macam dosa besar yang membinasakan!” Mereka para sahabat bertanya, “Wahai Rasolulloh, apakah itu?” Beliau saw menjawab, “Syirik kepada Alloh; sihir; membunuh jiwa yang Alloh haramkan kecuali dengan haknya; memakan riba; memakan harta anak yatim; berpaling saat di medan perang yang berkecamuk; menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Adzab menzholimi anak yatim secara zholim bukan hanya di dunia saja tetapi juga di akhirat. Hendaklah kita takut terhadap adzab Alloh SWT yang mungkin datang secara tiba-tiba saat menzholimi anak-anak yatim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *