Amalan yang manfaatnya menjangkau banyak orang lebih utama dibandingkan amalan yang manfaatnya tidak menjangkau banyak orang

Amalan yang manfaatnya menjangkau banyak orang lebih utama dibandingkan amalan yang manfaatnya tidak menjangkau banyak orang

Ada kaidah fikih yang disebutkan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuti Asy-Syafii rahimahullah dalam kitabnya Al-Asybah Wa An-Nadzoir Fil Qowaidil Fiqhiyyah yang berbunyi:

المتعدي افضل من القاصر

“(Amalan) yang manfaatnya menjangkau banyak orang lebih utama dari (amalan) yang manfaatnya tidak menjangkau banyak orang”

Kaidah ini sebagai tolok ukur bobot sebuah amalan seorang hamba. Amalan yang dimaksud adalah amalan kebaikan yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Hukum asal sebuah amal kebaikan memiliki keutamaan dan bernilai pahala disisi Allah seperti membuang duri dari jalan, membaca Al-Quran, berbakti kepada orang tua, bersedekah kepada fakir miskin dan yatim, berinfak untuk jihad dan dakwah, salat sunnah, salat wajib, puasa sunnah, puasa wajib, berinfak untuk pembangunan masjid, memberi nafkah lahir dan batin kepada keluarga, taklim atau mencari ilmu, ziarah ke rumah tetangga atau teman dekat, silaturrahim ke kerabat dekat, menjenguk orang sakit, zikir, doa dan lain sebagainya.

Kaidah diatas dimunculkan agar seseorang bisa menimbang-nimbang dan bisa mendudukkan mana amalan-amalan prioritas yang harus ia dahulukan dan utamakan daripada amalan lainnya.

Jika ada dua amalan, yang satu tidak lebih utama dari amalan yang satunya bukan berarti ia mencukupkan amalan yang paling utama saja, mengapa demikian? Karena hakikatnya kita dituntut untuk memperbanyak amal saleh dan berlomba-lomba dalam mengamalkannya. Akan tetapi kita harus lebih mengedepankan amalan yang lebih utama dari amalan yang lainnya, karena amalan yang lebih utama dari amalan lainnya lebih banyak mendatangkan pahala.

Imam Jalaluddin As-Suyuti asy-Syafii rahimahullah menyebutkan beberapa perkataan ulama terkait kaidah diatas.

Berkata Imam Abu Ishaq dan Imamul Haramain Al-Juwaini rahimahumallah: “Orang melakukan amalan yang hukumnya fardhu kifayah memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan orang yang melakukan amalan yang hukumnya fardhu ‘ain, karena amalannya bisa mewakili   dan menggugurkan beban orang banyak.”

Berkata Imam Al-Ghozali rahimahullah: “Sesungguhnya keutamaan sebuah amalan tergantung kadar maslahat/manfaat yang muncul didalamnya.”

Berkata Imam Asy-Syafii rahimahullah: “Mencari ilmu lebih afdhol dari salat sunnah.”

Demikian pula Imam Ahmad rahimahullah berkata senada dengan Imam Asy-Syafii rahimahullah.

Jadi, bobot pahala sebuah amal itu bisa dilihat dari sejauh mana kadar maslahat dan manfaatnya untuk ummat.

Dari keterangan diatas bisa kita terapkan dalam beberapa kasus berikut:

1. Ikut andil dalam kegiatan dakwah lebih utama daripada silaturrahmi ke kerabat dekat. Karena berdakwah memberikan manfaat lebih banyak kepada ummat.

2. Taklim atau mencari ilmu lebih utama dari salat sunnah. Karena mencari ilmu adalah modal untuk berdakwah dan amar makruf nahi mungkar yang manfaatnya lebih besar.

3. Berinfak untuk keperluan dakwah atau jihad lebih utama daripada sedekah ke fakir miskin atau yatim. Karena dakwah dan jihad lebih besar manfaatnya untuk ummat.

4. Ikut baksos membangun masjid lebih utama daripada dzikir dan membaca Al-Quran. Karena membangun masjid manfaatnya untuk banyak orang.

5. Salat berjamaah di masjid lebih afdhol daripada salat berjamaah bersama istrinya di rumah. Karena dengan salat dimasjid ada banyak manfaat yaitu disamping membangun hubungan dengan Sang Pencipta juga membangun hubungan sesama makhluk.

Dan masih banyak contoh kasus lainnya.

Perlu ditekankan kembali bahwa jika ada dua amalan yang memiliki bobot keutamaan yang berbeda bukan berarti cukup memilih salah satunya akan tetapi tetap berusaha sama-sama untuk diamalkan. diamalkan.

Contoh: Taklim atau mencari ilmu lebih utama daripada salat sunnah bukan berarti dia hanya menyibukkan dengan taklim atau mencari ilmu saja dan enggan melakukan salat sunnah, akan tetapi bisa diamalkan dua-duanya, hanya saja hendaknya dia lebih giat lagi dalam mencari ilmu, jangan sampai kebiasaan salat sunnahnya menjadikan dia tidak hadir di majelis ilmu.

Contoh lain: Berinfak untuk keperluan dakwah atau jihad lebih utama dari pada sedekah kepada fakir miskin atau yatim. Hal ini bukan berarti meremehkan keutamaan bersedekah kepada fakir miskin atau yatim karena amalan tersebut juga sangat dianjurkan. Keduanya bisa laksanakan dengan membagi-bagi dalam mengalokasikannya. Hanya saja berinfak untuk keperluan dakwah dan jihad lebih digiatkan dan diprioritaskan karena manfaatnya lebih menjangkau banyak ummat.

Kaidah diatas bisa dikatakan hanya sebagai timbangan atau tolok ukur dalam prioritas beramal agar energi atau harta yang kita keluarkan lebih banyak menghasilkan pahala disisi Allah.

 

Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat

 

Oleh: Abul Fata Miftah, Lc

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *