MAU KELUAR DARI ANGGOTA BPJS TAPI TIDAK BISA, BAGAIMANA SOLUSINYA?

MAU KELUAR DARI ANGGOTA BPJS TAPI TIDAK BISA, BAGAIMANA SOLUSINYA?

Dari Mama Abdurahman. Saya ikut BPJS karena asalnya tidak tahu kalo itu haram, saya mau keluar tapi tidak bisa terus bagai mana sikap saya?

Jawaban: Betul apa yang anda sampaikan bahwa sampai saat ini BPJS hukumnya haram. MUI menimbang adanya 3 unsur pelanggaran dalam BPJS,

Pertama, gharar atau ketidak jelasan bagi peserta dalam menerima hasil dan bagi penyelenggara dalam menerima keuntungan.

Kedua, mukhatharah atau untung-untungan, yang berdampak pada unsur maisir atau judi.

Ketiga, Riba fadhl atau kelebihan antara yang diterima dan yang dibayarkan. Termasuk denda karena keterlambatan.
Penjelasan lebih rincinya sebagai berikut,

Pertama, Peserta bayar premi bulanan, namun tidak jelas berapa jumlah yang akan diterima. Bisa lebih besar, bisa kurang. Di situlah unsur gharar atau ketidak jelasan dan untung-untungan.
Ketika gharar itu sangat kecil, mungkin tidak menjadi masalah. Karena hampir dalam setiap jual beli, ada unsur gharar, meskipun sangat kecil.
Dalam asuransi kesehatan BPJS, tingkatannya nasional. Artinya, perputaran uang di sana besar. Anda bisa bayangkan ketika sebagian besar WNI menjadi peserta BPJS, dana ini bisa mencapai angka triliyun. Jika dibandingkan untuk biaya pemeliharaan kesehatan warga, akan sangat jauh selisihnya. Artinya, unsur ghararnya sangat besar.
Dari Abu Hurairah , beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

”Rasulullah melarang jual beli gharar.” (HR. Muslim 1513).

Kedua, secara perhitungan keuangan bisa jadi untung, bisa jadi rugi. Kita tidak menyebut peserta BPJS yang sakit berarti untung, sebaliknya ketika sehat berarti rugi. Namun dalam perhitungan keuangan, yang diperoleh peserta ada 2 kemungkinan, bisa jadi untung, bisa jadi rugi. Sementara kesehatan peserta yang menjadi taruhannya. Jika dia sakit, dia bisa mendapatkan klaim dengan nilai yang lebih besar dari pada premi yang dia bayarkan. Karena pertimbangan ini, MUI menyebutnya, ada unsur maisir atau judi.

Ketiga, ketika klaim yang diterima peserta BPJS lebih besar dari premi yang dibayarkan, berarti dia mendapat riba Fadhl. Demikian pula, ketika terjadi keterlambatan peserta dalam membayar premi, BPJS menetapkan ada denda. Dan itu juga riba.

Menimbang 3 hal di atas, MUI dan beberapa pakar fikih di Indonesia, menilai BPJS belum memenuhi kriteria sesuai syariah.

Adapun apa yang anda tanyakan, yaitu anda ingin keluar dari keanggotaan BPJS namun secara aturan tidak bisa keluar dari keanggotaan, maka untuk sementara biarkan saja anda tetap menjadi anggota BPJS, disamping itu anda juga tetap harus membayar iuran bulanannya karena anda membayar atau tidak, tetap akan dicatat sebagai hutang bahkan ada denda keterlambatan, hal ini juga merupakan akad awal yang telah disepakati bersama saat mendaftar menjadi anggota BPJS, apalagi anda sudah memakainya untuk berobat yang mengeluarkan biaya sekian juta misalnya. Untuk selanjutnya anda juga boleh menggunakan hanya sebatas total dari iuran yang anda bayarkan. Misalnya tiap bulan anda membayar 400 ribu dan sudah berjalan 1 tahun, maka anda berhak menggunakan BPJS jika biaya pengobatannya mencapai 4,8 juta yaitu setara iuran 400.000 selama 1 tahun.
Selebihnya hendaklah dianggap sebagai hutang kepada BPJS, adapun bila biayanya kurang dari itu berarti dia masih ‘nitip’ uang di BPJS. Aturan ini juga berlaku bagi masing-masing anggota keluarga. Alias yang menggunakan BPJS boleh siapa saja asalkan nominalnya diketahui supaya tidak sampai terjadi memakan harta orang dengan cara yang batil.

Karena pada hakikatnya dana yang dikumpulkan adalah dari banyak orang, sehingga masing-masing peserta sebenarnya hanya berhak mendapat pembiayaan maksimal yang setara dengan total iuran yang dia bayarkan. Namun kalau anda betul-betul merasa tidak mampu melanjutkan pembayaran iuran tersebut, ya apa boleh buat, bayar saja jika anda sudah mampu. Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah berikan jalan keluar baginya dan rezeki yang tidak disangka-sangka. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *