÷PENDAPAT DARI DUA KELOMPOK TENTANG DEMONSTRASI÷

÷PENDAPAT DARI DUA KELOMPOK TENTANG DEMONSTRASI÷

✅KELOMPOK PERTAMA: Dari kelompok minoritas kaum muslimin

1. Demo hukumnya haram secara mutlak, tidak ada kelonggaran dalam masalah ini, yang menyelisihi pendapat ini adalah menyelisihi manhaj ahlus sunnah. Karena demo bukan ajaran manhaj ahlus sunnah dan bukan ajaran Islam. Dengan segala bentuknya, demo tetap haram baik demo kenaikan BBM, demo menuntut kenaikan upah, demo menolak kebijakan atau undang-undang tertentu, demo menolak aliran sesat, menolak pembangunan tempat maksiat, aksi bela Islam, bela al-Quran, bela Palestina, bela tauhid, bela Nabi dan sejenisnya.

2. Pemimpin zaman ini kedudukannya sama seperti ulil amri atau khalifah dalam kekhilafahan Islam apapun hukum yang diterapkan di negara itu. Sehingga tidak boleh mengkritik atau mencela pemimpin apalagi mendemonya. Kita hanya diperintahkan untuk taat dan patuh. Sabar atas kedzaliman dan keburukannya, sekalipun dipukul dan dianiaya. Semua kata atau lafadz “ulil amri” “imam” “sulthan” yang tercantum dalam al-Quran dan hadits maksudnya adalah pemimpin atau pemerintahan, apapun hukumnya yang berlaku di negara tersebut. Demo tidak mengandung maslahat dan tidak ada gunanya, lebih baik mendoakan pemimpin saja.

3. Karena pemimpin zaman ini kedudukannya sama dengan amirul mukminin dalam kekhalifahan Islam, sehinga demo berarti memberontak ulil amri atau khalifah Islam yang sah. Jadi, mendemo pemimpin saat ini sama halnya seperti memberontak amirul mukminin di zaman Nabi dan sahabat. Pelakunya layak disebut khowarij.

4. Demo hanya membuat kerusakan seperti membakar, melempar, macet, campur baur laki-laki dan perempuan dan lainnya.

5. Demo tidak ada contohnya pada zaman orang-orang shaleh terdahulu. Jadi, demo perbuatan yang diada-dakan dalam agama Islam dan menyelisihi manhaj orang shaleh terdahulu.

6. Demo bukan solusi namun polusi, berapa kali demo dilakukan tetapi tidak membuahkan perubahan pada negeri. Solusi problematika umat adalah iman dan takwa.

7. Demo muncul dari perbuatan atau tradisi orang kafir, sehingga tidak pantas diikuti orang Islam. Kabar langit memberitakan bahwa solusi segala-galanya adalah iman dan takwa. Percayalah dengan takdir, jangan khawatir dengan undang-undang yang terlihat merugikan dan memiskinkan rakyat dan umat Islam, karena rejeki yang mengatur Allah. Jadi sabar saja jika ada kedzaliman yang menimpa umat Islam.

8. Terjadinya konflik atau kekisruhan di negeri bahwa penguasa tidak bisa disalahkan, jadi yang selalu disalahkan adalah rakyat, kondisi keagamaan rakyat yang kurang baik atau karena tingkah laku atau sebab dosa rakyat dan harusnya rakyat berbenah diri bukan menyalahkan penguasa, bahkan jika ada kedzaliman tidak boleh mengkritik penguasa apalagi mendemonya, namun cukup hadapi dengan sabar dan doa. Karena harus tunduk patuh pada penguasa (penguasa zaman ini sama kedudukannya dengan khalifah atau pemimpin pada zaman kekhalifahan Islam).

✅KELOMPOK KEDUA: Dari kelompok mayoritas kaum muslimin.

1. Tidak semerta-merta orang yang memimpin suatu negara disebut ulil amri atau khalifah, namun ulil amri dalam pengertian syariat adalah orang yang memimpin dengan menerapkan hukum-hukum Allah yang termaktub dalam al-Quran dan as-Sunnah. Kata atau lafadz “ulil amri” “imam” “sulton” diartikan oleh mayoritas ulama adalah penguasa atau ulama yang menerapkan hukum-hukum Allah. Lafadz-lafadz tersebut bukan diterjemahkan secara tekstual dengan “pemimpin atau penguasa” tanpa memandang hukum apa yang diterapkan di negara tersebut.

2. Demo adalah salah satu cara atau metode, urusan teknis saja dalam memperoleh suatu tujuan tertentu, jadi hukumnya boleh. Demo berbeda dengan memberontak. Demo adalah menyampaikan pendapat secara terbuka atau menuntut suatu keadilan atau hak tertentu yang terabaikan. Biasanya dilakukan setelah negoisasi dengan baik tidak terwujud. Bahkan demo sendiri dibolehkan dalam undang-undang negara demokrasi, bagaimana mungkin disebut memberontak? Tidak tepat orang yang demo disebut khowarij, sedangkan khowarij ciri khususnya mengkafirkan pelaku dosa besar dan menghalalkan darah umat Islam. Orang yang lemah lembut dan tunduk patuh secara total terhadap semua kebijakan penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah terjangkiti pemikiran murjiah (toleransi terhadap orang yang tidak menerapkan hukum Allah namun keras terhadap orang yang mendakwahkan syariat Islam serta konsep loyalitasnya amburadul)

3. Demo pelakunya berbeda-beda, adakalanya dari mahasiswa, buruh atau para aktivis dakwah atau ormas Islam. Jadi hukumnya tidak bisa dipukul rata, pasti mengandung kerusakan. Berapa banyak demo dilakukan oleh ormas Islam namun tidak membuat kerusakan, bahkan rumputpun dilarang diinjak, sampah pun dibersihkan oleh tim khusus dan disiapkan ratusan laskar untuk menjaga keamanan agar tidak kisruh. Demo tidak selamanya campur baur laki-laki dan perempuan, berapa banyak demo menolak tempat maksiat dan aliran sesat tidak melibatkan wanita. Jika memang dalam demo tertentu melibatkan wanita, dari pihak panitia biasanya sudah mengatur jarak dan barisan antara lelaki dan perempuan. Adapun ketika bercampur baur itu efek dari peserta yang banyak misalnya 2jt atau 7 jt sedangkan area terbatas. Masalah campur baur pun tidak hanya terjadi pada demo, lihatlah di kendaraan umum, pusat belanja atau tempat wisata.

4. Jika demo dianggap tidak ada contohnya dari orang shaleh terdahulu, maka perlu mengaji dan mengkaji kembali sejarah sahabat dan dinasti-dinasti Islam. Lagi pula demo bisa menjadi salah satu cara atau metode dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar, sehingga masuk pada urusan teknis saja.

5. Jika ada kelompok atau orang yang hendak membangun tempat maksiat di tengah-tengah komunitas kaum muslimin, lalu diadakan negoisasi ke pihak berwenang tidak berhasil lalu diadakan demo, maka gagallah pembangunan tempat maksiat itu. Ini solusi atau polusi? Jika ada penista agama yang secara undang-undang harus diadili, namun pihak yang berwenang tidak mengadilinya, maka diadakanlah demo dan kemudian diadililah sang penista agama tersebut, ini solusi atau polusi? Masalah demo berhasil atau tidak tujuan yang dicapainya, itu urusan lain. Yang penting sudah ada usaha menuntut hak atau menyampaikan kebenaran atau menolak kedzaliman dan kemaksiatan.

6. Sejak kapan demo adalah ciri khusus orang kafir? Sedangkan demo bisa menjadi salah satu cara atau metode atau sarana amar ma’ruf dan nahi mungkar? Seperti menggagalkan acara aliran sesat atau menggagalkan pembangunan tempat-tempat maksiat, biasanya demo ini dilakukan ketika surat kepada pihak berwenang atau negoisasi denga pihak tertentu tidak berhasil atau diabaikan.

7. Menghadapi kedzaliman atau kemaksiatan tidak cukup dihadapi dengan sabar dan doa namun disertai dengan usaha dalam menolak kedzaliman atau kemaksiatan tersebut. Modal menghadapi kedzaliman dan kemaksiatan tentu dengan iman dan takwa, namun iman dan ketakwaan itu tidak hanya dipraktekkan di rumah atau di masjid atau di majelis taklim saja, justru ada kalanya dalam mengaplikasikannya dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan turun ke jalan atau tempat umum. Apakah jika ada aliran sesat mengadakan acara atau ada pembangunan tempat maksiat atau ada penista Islam, dihadapi dengan hanya duduk di masjid dan majelis taklim?

8. Konflik atau kekisruhan di negeri bisa saja dimulai dari ulah para penguasa, bukan semerta-merta kesalahan rakyat. Jadi, jangan hanya menyalahkan rakyat saja. Karena berapa banyak rakyat yang sudah berusaha dakwah dan mengarahkan pada kebenaran namun penguasa yang belum mau taat pada aturan agama Islam. Mengkritik dan memberikan masukan secara terbuka kepada penguasa boleh-boleh saja, dan bukan termasuk memberontak (mana mungkin akan memberontak sedangkan bekalnya hanya bendera dan speaker belum lagi di hadapannya para aparat bersenjata lengkap). Secara hukum dan undang-undang diperbolehkan berpendapat di muka umum. Bahkan hal ini menjadi salah satu cara beramar ma’ruf dan nahi mungkar (biasanya terjadi setelah ada negoisasi secara baik tidak berhasil)

Inilah poin-poin singkat dari pendapat dua kelompok tentang masalah demonstrasi, tentu jika dijabarkan secara panjang lebar masing-masing kelompok memiliki argumen dari al-Quran, As-Sunnah, kaidah fikih, ushul fikih, sejarah dan lainnya. Bagi anda ada hak untuk memilih salah satu pendapat dari dua kelompok tersebut. Berbeda pendapat tidak harus menghujat dan enggan mendekat. Wallahu a’lam

✍Abul Fata Murod, Lc; S. Ud

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *