÷MENASEHATI PENGUASA SECARA TERBUKA÷

÷MENASEHATI PENGUASA SECARA TERBUKA÷

Sudah maklum bahwa pemimpin-pemimpin di zaman dahulu terutama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya sangatlah peduli dan sangat dekat dengan rakyatnya, di zamannya pula diterapkan sistem Islam sehingga segala bentuk kebaikan dan kemaslahatan tercapai serta segala bentuk keburukan teratasi. Mereka adalah pemimpin yang amanah, taat aturan Allah, jujur, ahli ibadah dan begitu antusias dalam mendengar semua aduan, masukan, saran atau cepat tanggap terhadap problematika yang menimpa rakyatnya.

Setiap ada orang yang ingin mengadukan sesuatu, begitu mudahnya mereka menemui para pemimpin dan para peminpin saat itu pun membuka pintu selebar-lebarnya kepada siapa saja yang ingin bertemu dan menyampaikan perkara-perkara yang perlu disampaikan.

Pertanyaannya, apakah pemimpin-pemimpin negeri saat ini seperti itu? Bukankah kalian pernah mendengar atau mengetahui ada seorang penguasa di negeri ini yang ketika ingin ditemui para utusan dari ummat Islam justru menghindar? enggan menemuinya?

Selanjutnya ketika kita bicara tentang bab menasehati orang lain, kami sepakat bahwa hukum asal menasehati orang adalah dengan rahasia dan bertatap muka. Inipun sudah maklum bagi kita.

Untuk saat ini biasanya orang-orang yang ingin menasehati penguasa secara terbuka sebelumnya sudah mengirim surat atau nasehat kepada para penguasa secara pribadi. Misalnya, untuk turun ke jalan dalam rangka menolak acara-acara yang diadakan oleh aliran sesat atau menolak pembangunan tempat maksiat atau kekufuran di tengah-tengah umat Islam atau sebelum turun jalan untuk menuntut diadili penista agama dan semisalnya, tentu mereka telah mengutus utusan atau mengirim surat ke pihak yang berwenang.

Akan tetapi ketika permintaan atau tuntutan tersebut tidak diindahkan atau tidak dikabulkan barulah mereka menasehati penguasa secara terbuka dengan turun ke jalan.

Sehingga menasehati penguasa secara terbuka atau beramai-ramai adalah jalan kedua dan ini sesuatu yang boleh-boleh saja dan tidak dilarang ketika memang nasehat secara pribadi tidak diindahkan. Semacam ini pernah terjadi dalam kehidupan orang-orang shaleh terdahulu.

Wahib bin Al-Ward berkata: “Rombongan Bani Marwan pernah berkumpul di depan pintu khalifah Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu anhu kemudian mereka berkata kepada Abdul Malik yaitu anaknya, katakan kepada ayahmu, sesungguhnya para khalifah sebelum dia memberi jatah kepada kami dan mereka menetapkan posisi kami. Ayahmu menahan untuk kami apa yang ada di tangannya, kemudian Abdul Malik masuk menemui ayahnya dan menyampaikan pesan itu. Abdul Malik berkata kepada mereka, sesungguhnya ayahku berkata, aku takut mendapatkan siksa yang pedih apabila aku berbuat maksiat kepada Tuhanku. ” (Lihat Tarikh Khulafa’ Karya Imam As-Suyuti Asy-Syafii dalam biografi khalifah Umar bin Abdul Aziz)

Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah ketika menjelaskan sebuah hadis dalam kitabnya syarah shahih muslim dalam bab “Balasan bagi orang yang memerintahkan orang lain untuk berbuat baik tetapi dia tidak melakukannya dan memerintahkan orang lain agar tidak berbuat buruk tetapi dia melakukannya”, yaitu hadits shahih yang tercantum dalam kitab shahih muslim no. 2.989, beliau rahimahullah mengatakan:

قوله (أفتتح أمرا لاأحب أن أكون أول من افتتحه) يعنى المجاهرة بالإنكار على الأمراء فى الملأ كما جرى لقتله عثمان رضى الله عنه وفيه الأدب مع الأمراء واللطف بهم ووعظهم سرا وتبليغهم ما يقول الناس فيهم لينكفوا عنه وهذا كله اذا أمكن ذلك فان لم يمكن الوعظ سرا والانكار فليفعله علانية لئلا يضيع أصل الحق

Perkataannya “Aku tidak akan membuka perkara yaitu fitnah di mana aku tidak menyukai sekiranya aku adalah orang pertama yang membukanya,” maknanya adalah, “Secara terang-terangan dalam menasihati penguasa di hadapan khalayak ramai, sebagaimana pernah terjadi kepada para pembunuh Utsman radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadis ini terdapat adab terhadap penguasa, berlemah-lembut terhadap mereka, menasihati mereka secara rahasia dan menyampaikan perkataan manusia tentang mereka supaya mereka berhenti dari kemungkaran tersebut. Ini semua dilakukan sekiranya memungkinkan atau mampu, tetapi sekiranya tidak mampu untuk menasihati dan mencegah kemungkaran penguasa secara rahasia, maka hendaklah seseorang melakukannya juga secara terang-terangan atau terbuka supaya kebenaran itu tidak diabaikan.” [Lihat Syarah Shahih Muslim Karya Imam An-Nawawi Pustaka Darul Iman Al-Azhar Mesir Halaman 271]

Menasehati secara terbuka tentunya bukan berarti mengumbar aib pribadinya di khalayak ramai, mencacinya, menghujatnya atau menzaliminya akan tetapi tetap memperhatikan adab-adab Islam. Jika misalnya ada kelompok yang turun ke jalan untuk menasehati penguasa lalu mencaci penguasa, bukan berarti dijadikan dalil untuk menghukumi secara rata bahwa menasehati penguasa secara terbuka itu terlarang secara mutlak, karena banyak sekali para aktivis Islam melakukan aksi tetapi hanya menyampaikan pendapat atau menuntut hak tanpa melakukan caci maki atau provokasi atau melakukan kerusakan.

Jadi, menasehati penguasa itu tidak hanya dilakukan secara tertutup saja akan tetapi ada kalanya dilakukan secara terbuka sebagaimana penjelasan di atas.

✍Abul Fata Murod, Lc; S. Ud

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *